Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts

Thursday, May 23, 2024

Why is it important to go to School?

We are on the midst of era, where everyone is able to get any information they need. It is easy-fast to grab, and unlimited. But no one is sure, whether it is fact, actual, valid, nothing at all. We are dumped with millions informations from unlimited point of view. Many of them are similiar, even mixed-up, against one on the another. It is almost impossible to stay accurate.

So, still we are on the question on why is school still relevant? 

If someone really being in the school, with a good teacher and good class atmosphere, we would be able to achieve a discussion of knowledge. Everyone being able to share their knowledge, being developed to certain understanding of something. Then we are learning.

People might experience better in real life, but in the school and books, we avoid many useless failures. For so many people have experienced it, and so come as lesson. Better than start from nothing!

So i keep that on my mind, that i want, need and have to go to school with question of things i have learned. School would be useless if we come with nothing to bring with.

Monday, November 28, 2022

Disappointment

I am a disappointed person. I am being disappointed so many times in my life. I always ask why? Am i too spoiled? I don't know.

But a disappointment always puts me in very bad mood and the worst part is sadness, it comes twice if person i trust disappointed me. I don't want to be this kind of person anymore. In exchange, i don't expect much things from people.. but it also turns back on me, i don't build connection with people. I restrict my relationship with other people.

I wish i could be grown enough to handle disappointment. But how could that be? I don't know how? Or even to understand the necessity of it.

Is my heart broken? Am i not healed enough? What pain from the past makes me today? I want to let it go. Sometimes "the pain" hurts people i care too. I don't know to whom i talk this things to. I might be feeling relieved when i pour it out in conversation, but in the end, i am just too good to define things with words, but expressing feelings.

Yeah like what i describe here, it explained well.. tho i know nothing bout it. The journey is just long still. Hope one day i can resolve this and my beloved family are still there too to witness it.

Friday, August 27, 2021

Kritis Diri

Menjadi kritis di era digital ini semakin kian mudah, informasi yang berlimpahan dari yang sampah sampai yang paling berharga. Semuanya terpampang dalam sajian - sajian yang memancing rasa keingintahuan kita, walaupun Indonesia salah satu negara yang minat bacanya rendah namun tidak menjadi halangan itu mereka "memakan" click-bait pembuat konten. Seperti kasus Ahok, beliau dipenjara karena menista agama namun si pembuat konten, Buni Yani, juga dipenjara karena UU ITE. 

Kita bertanya - tanya, dalam kasus itu saja si pembuat berita dan yang disangkutkan namanya dipidana juga. Lantas bagaimana seharusnya?

Indonesia menjadi korban penjajahan pihak asing sejak dulu, divide et impera menjadi senjata andalan untuk meredam perjuangan. Membenturkan antar tetangga atas tendensi pribadi yang menjadi masalah khalayak, itu mungkin sejarah namun kenyatannya masih sangat laris sekarang. Menurut riset yang dirilis Microsoft, netizen Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Sehingga tidak aneh bagi penjajah dulu untuk memainkan cibiran kita kepada saudara kita sendiri. Tidak ada bukti riil sebetulnya korelasi antara sejarah kelam dan riset tersebut, namun menurut gue era digital baru saja mengekspos kenyatannya.

Di era digital kita semua bermain peran menjadi sumber informasi, kemudahan akses membuat opini kita sanggup dikonsumsi banyak orang. Begitu banyak kritik yang disampaikan kepada berbagai aspek kehidupan, baik kepemimpinan, kondisi hidup dan banyak persoalan umum namun dengan kecatatan - kecatatan logika yang begitu kontras. Membuat gue kembali bertanya, apakah mereka sudah berpikir sebelum mempublikasikan hal tersebut?

Gue sendiri banyak menemukan hal ini berseliweran di dunia maya. Beberapa contoh di antaranya seorang yang anti hutang atas dalil agamanya menguraikan ruginya kredit kendaraan bermotor, membandingkan total kredit (DP + seluruh kredit) dengan nilai kendaraan tanpa menghitung inflasi dan fungsi ekonomisnya. Nominal uang yang dipinjamnya dipaksakan masih sama nilainya dengan saat selesai masa kreditnya. Sebagai contoh dengan nominal IDR 8.000 dulu kita sanggup membeli semangkuk bakso, tapi sekarang nilainya sudah berubah menjadi IDR 15.000. Nominalnya meningkat tapi nilainya sama yaitu semangkuk bakso. 

Belum dari kredit tersebut kita bisa menghasilkan suatu manfaat, menjadi tukang ojek misalnya yang pada akhirnya memberikan nilai tambah.

Dalam lain waktu gue juga menemukan kritik terhadap presiden yang mirip seperti R*cky Gerung, memaksakan standar menurut logika nya. Apabila tidak memenuhi hal tersebut maka disebut bodoh, mengecualikan banyak aspek lain di sekitarnya. Ini tidak berarti logika nya keliru namun sama halnya dengan persoalan kredit tadi, orang lain dipaksa memasuki formulasi, opini atau pendapatnya yang lalu jika tidak memenuhi kriteria yang dia inginkan lantas dikritisi sebagai suatu kekeliruan.

Kritik sangat mudah disampaikan, atas kompleksitas informasi yang tersedia di banyak pilihan media yang kita gunakan dan pintarnya teknologi dalam mengemlompokkan minat konsumen maka pola pikir kita semakin mengerucut dan sempit. Tak heran melihat orang - orang terlihat pintar dengan kebodohannya sendiri. Orang semakin informatif namun bodoh, kita mungkin berpikir informasi membuka pikiran namun tidak sekarang.

Kesadaran untuk kritis terhadap diri sendiri masih sangat minim, memvalidasi informasi yang diterima, memeriksa fakta dari sumber yang tidak kita sukai, mengadu opini fakta antar sumber, berempati dari pihak yang tidak kita perkenankan atau meragukan pengetahuan yang kita percayai benar. Semua diolah bersama hal - hal yang kita ketahui, percayai dan sukai menjadi satu pola pikir yang selanjutnya boleh saja untuk dipublikasikan. Baik dalam ide, pesan, saran ataupun kritik.

Kritis diri akan menjadi sangat berguna bagi kita sendiri, selain data yang kita miliki semakin kaya, informasi yang kita miliki juga semakin faktual. Setiap pesan yang dimiliki baik yang disimpan sendiri maupun yang disampaikan kepada publik menjadi semakin berguna dan baik.


Tuesday, January 12, 2021

Sedih

Hijrah dari Jakarta ke Jerman sudah menjadi mimpi gue sejak dulu. Melanjutkan studi S2 gue, lalu berkarir sebagai seorang profesional di perusahaan Jerman yang mapan. Sesekali berkontribusi pada dunia riset agar pengetahuan gue tetap diberi gizi. Begitu besar keinginan itu sampai sering kali gue tidak bersyukur akan berkat yang gue miliki sampai detik ini.

Hijrah ke Jerman bukan semata - mata impian, jaminan hidup lebih baik yang gue dambakan. Indonesia tidak seburuk itu, gue lahir dan besar dalam sistemnya. Namun memikirkan untuk membangun keluarga di dalam negeri ini sungguh rasanya tidak sanggup. Pendidikan yang mahal, rumah yang mahal dan pelayanan kesehatan yang kurang baik. Ketiga hal tersebut menjadi alasan mendasar impian yang menurut gue bisa dipenuhi di Jerman.

Tidak muluk - muluk sebetulnya, pendidikan di Jerman gratis dari KG sampai Postgraduate. Kultur gaya hidup yang lebih sehat dan pelayanan rumah sakit yang bagus ala negara - negara sosialis maju. Aset bukan hal yang gue dambakan, memiliki tempat tinggal yang layak buat keluarga gue itu lebih cukup. Kalau dipikir hal itu adalah cukup sederhana di Jerman, tapi mahal di Indonesia.

Kian lama mimpi itu terasa semakin hambar dan kabur, Siby yang dulu menggebu - gebu meraihnya terasa seperti orang asing sekarang. Dua sepupu gue sekarang sudah di Jerman atas impian yang sama, hijrah ke Jerman. Gue bahagia sekali bisa berbagi mimpi pada orang dekat gue, melihat mereka betul bahagia akan itu.. yang walaupun sebetulnya hati kecil gue bersedih. Perasaan iri itu nyata. Lalu gue kapan?

Gue punya keluarga kecil yang bahagia sekarang, sampai hari ini kebutuhan kami tercukupi dan kami bahagia. Karir gue juga perlahan terbangun, so far so good. Tidak ada masalah dalam hidup gue, kecuali hutang dampak pengobatan covid kemarin. Pun begitu gue optimis hutang itu terselesaikan. Lagi - lagi itu bukan alasan gue bersedih hari ini. Semua yang gue miliki hari ini luar biasa terbaik, things can‘t be better than this.

Dian dengan segala keberatannya tetap mendukung gue untuk ke Jerman, mengikuti langkah sepupu gue yang dimana adalah mukjizat atas segala kebuntuan gue tentang impian gue hijrah ke Jerman. Kami harus berpisah tahunan, kami sepakat hutang dibebankan atas namanya supaya gue bebas melenggang ke Jerman. Tuhan baik, luar biasa baik. Gue berjanji segala pemenuhan hidup dan penyelesaian hutang akan gue penuhi dari Jerman. Nanti semua selesai dan gue mapan, gue bisa dengan penuh kebahagiaan membawa Dian dan Naurielle ikut hijrah ke Jerman.

Kesedihan itu ada dan terus membayang, hari ini kesedihan gue timbul karena keirian bahwa kedua sepupu gue sebetulnya baru - baru saja mau hijrah ke Jerman dibanding gue.. bahkan gue ikut mengajari mereka dasar - dasar Deutsch juga meminjamkan buku les gue. Lantas malah mereka yang sudah berangkat duluan. Tapi apa lah itu!? Tiap - tiap orang ada kesusahannya sendiri, tidak pantas gue membandingkan. Sungguh bukan mentalitas orang yang berniat menjalani gaya hidup orang Jerman yang rasionalis. Lagipula apabila gue tidak pernah berbagi pada mereka, tidak ada mereka yang menjadikan mimpi ini terasa nyata kembali.

Gue harus belajar menangani kesedihan gue sambil menata hidup yang lebih baik demi hari ini dan masa depan gue. Dipikir - pikir pula, besok ada kesedihan yang lain. Gue harus berpisah dengan Dian dan Naurielle dalam waktu yang tidak sebentar. Gue harus kuat. So gue betul perlu terus fokus, pria harus punya mimpi yang dikejar dan prinsip yang dipegang. Walaupun kadang kesedihan atas asa yang tidak kunjung terasa nyata ini suka kembali, begitu lah asam manis kehidupan. Semua ini demi hidup yang baik, begitu gue kutip lagu DragonBall.

Monday, April 13, 2020

Paskah

Bertahun - tahun gue merayakan paskah dengan peringatan yang begitu gamblang bahwa Yesus Kristus bangkit dari maut menggantikan manusia menanggung segala dosa. Tapi mengapa Yesus begitu didambakan? Mengapa martirnya begitu spesial dibanding nabi lain?

Setelah sekian lama gue baru menyadari dan memahaminya. Bahwa rentetan sejarah alkitab berulang dan berperkara kian hebat. Semua tahu bahwa Abraham mengorbankan anaknya yamg sulung atas perintah Tuhan, lalu korban itu diganti dengan domba jantan oleh Allah kemudian anak sulungnya terselamatkan. Pun begitu sejarah berulang Musa harus mengorbankan domba jantan terbaik tanpa cacat lalu darah dombanya ditempeli pada pintu agar anak sulung tiap bangsa Israel selamat dari tulah Tuhan dan begitulah Tuhan perintahkan Israel untuk memeringati hari itu sebagai paskah.

Yesus anak domba Allah, sungguh membingungkan julukan anak domba bagi Kristus tapi begitulah perannya. Sebab maut tidak akan melewati satu orang pun kecuali yang di dalamnya terdapat darah anak domba jantan terbaik. Itu lah kekristenan, itu lah injil, itu lah kabar baiknya. Lalu Kristen memperingatinya sebagai paskah dan keselamatan itu sama nyatanya saat sulung Abraham dan sulung tiap - tiap bangsa Israel diselamatkan. Selamat Paskah bagiku dan bagimu teman! DIA hidup jadi kita masih punya hari esok! God bless.

Sunday, June 30, 2019

Paradigma Siby

Sudah cukup lama gue gak menulis, semakin hari inspirasi menulis gue seperti habis. Entah mungkin cara berpandang gue difokuskan oleh hal - hal faktual dalam hidup. Sebenarnya hal ini adalah salah satu yang gue khawatirkan sejak dulu, dimana kebebasan berpikir gue terenggut oleh batasan - batasan pola pikir oleh keadaan terkini yang gue miliki. Menulis dulu hanya mengalirkan pikiran gue ke dalam tulisan namun kini banyak gue renungkan sampai akhirnya lenyap.

Ketakutan gue tentang hanyut dalam kewajiban hidup dibandingkan menghidupkan hidup yang gue inginkan, kian hari semakin menjadi. Gue tidak menampikkan hidup gue sekarang sudah sangat baik, gue akan menikah sebentar lagi dengan wanita yang sangat baik, gue sudah memiliki pekerjaan yang baik, perkembangan karir yang baik.. tapi seperti ada yang kurang di antara begitu banyak berkat itu. Mimpi gue terasa semakin hambar.

Sebenarnya gue tertegur oleh komik yang gue baca, dimana usaha salah satu tokoh utamanya gagal dikarenakan dirinya sendiri. Disitu gue kutip, "He is the world, and the world is him. That world is his wall. He really had nowhere to go". Kalimat itu gue baca beberapa hari yang lalu, tapi gue tidak bisa melupakan kalimatnya. Bahwa akhirnya gue sadar ketakutan gue selama ini adalah diri gue sendiri, gue selalu mencoba melogikakan banyak hal.

Melogikakan banyak hal memang upaya gue dalam memikirkan sesuatu agar bisa gue capai, namun ketika logika sampai di batasnya maka gue cuma bisa tertegun pasrah. Gue sedang berusaha mengeluarkan diri gue dari paradigma ini, bahwa ketika gue pikirkan ulang tentang begitu banyak berkat yang gue dapatkan di luar logika gue.. gue merasa sedikit tenang. Entah gue di posisi waspada terhadap kegegabahan akibat melupakan logika gue atau masih belum bisa benar - benar keluar dari paradigma gue sendiri. Gue masih memikirkan itu berulang - ulang. Berharap bisa keluar dari paradigma ini, mampu menjalankan kewajiban hidup sekaligus mencapai mimpi - mimpi gue sejak dulu. Please God bless me.

Wednesday, March 7, 2018

Sesat

Sesat. Saat kita kehilangan arah. Kehilangan arah bisa diakibatkan banyak hal, namun apabila kita tidak dapat menemukan jalan tujuan. Kita tersesat. Hidup begitu rumit, semua tidak pernah semudah dulu. Selesaikan tugasmu, persiapkan ujianmu, tidur cukup, bermain cukup lalu berlibur. Semuanya berubah sekarang, tampak semu sementara harus. Mengaburkan diri kita dari menjadi apa kita yang didambakan dulu.

Sosok yang dulu didambakan untuk diperankan ketika tua kini semakin asing dan jauh... apa harus begitu? Tanggung jawab datang bertubi - tubi, meraih cita - cita kini berubah menjadi bertahan hidup. Waktu terasa semakin sempit dibanding 10 - 15 tahun lalu, padahal idealnya masih bisa merasakan 25 tahunan ke depan dan bahkan lebih. Tapi kita tidak pernah sama dengan masa lalu.

Kita tersesat. Setiap detik yang berlalu menjadi kesia - siaan yang fatal. Tidak pernah bisa diraih kembali. Keselarasan antara kehidupan dan impian semakin jelas batasnya. Sakit untuk mengingat itu, atas segala keterbatasan yang dimiliki. Hanyut dalam derasnya tuntutan hidup.

Akankah kita menemui setidaknya jalan untuk kembali? Agar dapat memulai lagi, menyusuri jejak menuju masa tua yang didambakan tanpa perlu tersesat? Atau jangan - jangan justru tanpa sadar kita sudah berada pada jalan yang dituntun Nya, kita hanya kelelahan di tengah kerumitan ini? Oh Tuhan, untuk mengerti ini pun saya tersesat di dalam pikiran ini.

Thursday, March 1, 2018

Benar

Manusia terlahir untuk mencari kebenaran. Setiap kita mencari tahu apa makna segala hal, hingga mencapai suatu pemahaman "benar". Meraih kebenaran berada pada alam bawah sadar manusia, mengontrol tingkah lakunya. Namun apabila kebenaran tertanam begitu baik, mengapa masih ada kepalsuan?

Kebenaran tidak pernah diraih dengan mudah, satuannya hampir relatif jika definisinya tidak jelas bermakna. Satu kebenaran terbantah oleh kebenaran lain hingga saling menjelaskan secara jujur dan memahamkan. Dalam satuan waktu tertentu pun kebenaran bisa berubah bahkan sampai tidak berlaku. Apapun itu, kebenaran merupakan kewajiban manusia untuk meraihnya.

Dalam upaya pencapaian kebenaran, masing - masing manusia meraihnya dalam berbagai cara. Kurangnya pendidikan mengaburkan makna kebenaran menjadi ego. Keegoisan untuk menjadi benar. Di saat egoisme tumbuh, kepalsuan menyamarkan kebenaran -"berusaha" menjadi benar. Usaha menjadi benar dirusak oleh egoisme.

Egoisme pula yang bercampuraduk dalam benak manusia dalam mempertahankan suatu kebenaran... dan apabila kebenaran berubah nilainya akibat satu hal dan lainnya, egoisme tetap solid. Faktor pendidikan lah yang dapat melebur ego. Berpendidikan berarti belajar untuk salah. Semakin banyak hal yang Anda tahu, semakin besar kesalahan yang Anda buat.

Kesalahan yang Anda pahami, membantu Anda mengerti kebenaran. Belajar untuk salah menuntut Anda untuk mengerti hal lebih banyak dan dalam. Kebenaran yang seharusnya Anda raih justru Anda dapatkan hanya dari kegagalan, baik oleh Anda sendiri atau pun yang telah dilakukan oleh orang lain yang telah berubah menjadi ilmu. Jangan lah pernah berhenti mencari kebenaran, sesaat Anda berhenti maka Anda akan kehilangan arti hidup... bahwa kita semua terlahir untuk mencari kebenaran.

Tuesday, October 24, 2017

Suci

Pada zaman modern ini, semua berlagak paling benar. Masing - masing manusia mengusahakan opininya menjadi suatu standar umum yang kemudian dimaksudkan agar dapat menjadi fakta tanpa ada usaha membuktikan kualitasnya. Usaha tersebut membutakan kita tentang bagaimana suatu hal semestinya. Menjadi standar yang kita anggap benar.

Parahnya urusan benar - salah ini merambah ke hal paling sensitif yaitu keimanan. Hal yang tidak pernah bisa diukur dalam satuan dan dilihat dalam bentuk. Keimanan yang tinggi dianggap sebuah keabsolutan kebenaran yang hakiki, sehingga yang menentanganya dapat dengan mudah dilabeli sebagai orang yang tidak suci. Maka berangkatlah orang modern zaman ini menuju "kesucian".
Paradigma tersebut timbul karena lemahnya pendidikan. Orang tidak menyadari tentang pentingnya suatu fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka bermain dalam rumitnya tafsir keagamaan, membenarkan opininya dalam kutipan ayat. Agama tidak pernah salah, begitu lah pisau bermataduanya. Jika agama tidak pernah salah, maka manusia yang berpegang padanya tidak mungkin salah juga.

Dalam ketakutan terhadap fakta, manusia berlindung di gelapnya agama. Jujur saja, gue menemui banyak orang relijius yang sangat buruk tingkah lakunya. Padahal agama justru berperan sebagai tempat berteduh dan Anda tidak pernah bisa memaksakan orang lain untuk serumah dengan Anda.. lalu bagaimana pun juga Anda harus tetap meninggalkan rumah itu bukan? Demi bernafkah, lalu kembali setelah selesai.

Kesadaran tentang pentingnya pendidikan harus ditingkatkan. Gue gak mengatakan tentang wajib belajar 9 tahun ala program pemerintah. Pendidikan bukan lah hal yang dapat Anda raih cuma dari sekolah, manusia banyak yang berpikir usaha berpendidikan berhenti ketika dia menyelesaikan studi sekolahnya. Kesadaran ini pada akhirnya membuka pikiran manusia untuk menerima fakta walaupun bersebrangan dengan opininya. Bahwa dalam kerumitan momentum - momentum dalam hidup ini selalu ada pola yang dapat dipelajari untuk selanjutnya dapat ditingkatkan menjadi sesuatu yang lebih baik dan tidak semata - mata mengejar kebenaran sendiri saja.

Monday, March 17, 2014

Skenario Politik 2014


Baru Jum’at kemarin Joko Widodo atau biasa disapa Jokowi, Gubernur DKI Jakarta memroklamirkan bahwa dirinya akan mengikuti pemilihan presiden 2014 ini. Sesuatu yang sepertinya tidak perlu diragukan lagi, isu – isu sudah tersebar jauh hari sebelum beliau menyatakan ini secara langsung. Setelah sebelumnya hanya memberikan respon “malu – malu kucing” ke publik. Momentum Jokowi mencalonkan diri menjadi Presiden RI hanya suatu hal yang menunggu waktu, rakyat pun tahu.

Banyak respon yang timbul terhadap hal ini, negatif maupun positif. Jokowi sebelumnya berjanji untuk memimpin Jakarta sampai tuntas, ini salah satu alasan respon negatif terhadap pernyataan Jokowi untuk maju menjadi peserta pilpres 2014 juga besarnya ekspetasi warga Jakarta terhadap janji “Jakarta Baru” sewaktu kampanye Gubernur DKI Jakarta tempo hari. Walaupun sebenarnya apa yang telah dilakukan Jokowi di Jakarta menurut gue adalah pembuktian bahwa prestasinya di Solo tidak tabu, ini lah yang menjadikan Jokowi begitu didambakan masyarakat. Memang kinerja Jokowi belum maksimal, dilihat dari banyak faktor yang belum diselesaikannya, salah satunya kemacetan Jakarta.

Sorotan media Jakarta yang begitu gemerlap begitu mengagungkan nama Jokowi di mata publik, prestasi aslinya kurang diperhatikan dan begitupun PR (Baca: Pekerjaan Rumah) yang belum diselesaikannya. Jokowi, hanya nama Jokowi yang berkibar sedang melakukan tugasnya melayani warga Jakarta. Kritikkan terhadapnya dinilai tindakan apatis terhadap seorang gubernur baik. Tapi hanya kah begitu? Setelah apa yang dilakukan media dalam pembesaran nama Jokowi, Jokowi tidak hanya lagi diminati warga Jakarta, daerah – daerah lain membutuhkan Jokowi untuk memimpin. Bagaimana skenario itu dapat terjadi? Memimpin daerah lain tanpa meninggalkan Jakarta. Menjadi presiden lah solusinya.

Benarkah hanya itu? Hanya seorang walikota baik dari Solo yang ingin menjadi gubernur Jakarta untuk meningkatkan track record karirnya? Gue pikir lebih dari itu, Jokowi telah disiapkan menjadi Presiden RI jauh hari dan Ahok, Basuki Tjahja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta. Gue meyakinkan hal ini, PDI-P sangat matang merencanakan hal ini, ditambah perekrutan kader – kader yang cukup kita akui sangat hangat di masyarakat sebagai politisi pemberi harapan, masa depan yang cerah. Surabaya dan Jawa Tengah saksinya. Menurut gue di kala itu hanya Jokowi dan Ahok yang mumpuni mengisi peran skenario ini. Setelah aktor didapat, terdapat kendala yang harus dipenuhi yaitu dapat atau tidaknya masyarakat menerima mereka. Bagaimanapun ini adalah negara Pancasila, kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat.

Gue mulai penjelasan skenarionya, Jokowi Presiden RI dan Ahok Gubernur DKI Jakarta. Kendalanya mudah,mereka berdua kurang dikenal dan khusus Ahok secara “sara” tidak memenuhi kriteria masyarakat. Pemenuhan itu mudah, Jokowi ditunjuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta agar setelah posisi itu dimenangkan dirinya, Jokowi menjadi lebih tersorot media. Mengikuti ajang pemilihan gubernur berarti profil Jokowi akan dipublikasikan di media Jakarta, yah, secara tidak langsung ini merupakan media nasional. Track record sewaktu memimpin Solo yang katanya nama sempat terdaftar dalam salah satu di antara nama penerima penghargaan World Best Governor terpublikasikan dengan baik dan menjadi sorotan publik. Seingatku bahkan media internasional pun mengikuti pemilihan Gubernur Jakarta ini.

Setelah memenangkan posisi Gubernur DKI Jakarta pun masih berlanjut, Jokowi terus – terusan menjadi media darling tidak hanya di media Jakarta melainkan media – media lokal daerah lain. Nama Jokowi begitu diinginkan. Jokowi nampak sempurna di mata rakyat Indonesia, sosok low profile, wong ndeso nasionalis dengan prestasi mendunia. Indonesia membutuhkan Jokowi untuk memimpin, skenarionya pun terpenuhi. Bagaimana dengan Ahok? Dalam misi pemenuhan Jokowi mengisi kursi DKI1 dibutuhkan partner yang saling mengisi dan semuanya setuju itu Ahok. Sikap Jokowi yang santai, penuh senyum manis namun tegas diimbangi oleh Ahok yang keras dan gamblang. Perpaduan yang tepat walaupun sebenarnya Ahok lah yang ditujukan mengisi DKI1. Ahok tidak bisa secara langsung mengisi posisi DKI1, itu akan menimbulkan conflict of interest atas tujuan yang dibawa Jokowi dan kita sangat tahu walaupun DKI Jakarta merupakan kota metropolis juga tempatnya berbagai suku, ras, agama & antar-golongan “mengadu nasib” namun tetap saja isu – isu sara sangat sensitif di sini. Ahok notabene adalah seorang bersuku Chinesse dan beragama Kristen menjadi sasaran empuk para lawan politiknya.

Gue tidak mencoba mengingatkan isu bodoh ini, ini terjadi nyata sewaktu pemilihan Gubernur DKI lalu. Padahal “hanya” seorang wakil, black campaign sangat gamblang terjadi. Walaupun kita tahu tidak perlu kita ragukan kepemimpinan Ahok sebagai birokrat, kita hanya perlu kritisi arogansinya saja. Jika saja Ahok hanya mengikuti pemilihan gubernur kemarin dengan arogansi juga ambisinya maka gue pastikan hasilnya nihil. Ahok diminta membantu Jokowi dalam penyelesaian tugasnya, bukankah itu yang dikatakan Ahok? “Tugas saya kan saya harus tambah kecil, beliau (Jokowi) tambah besar gitu lho. Gitu. Itu teorinya. Saya harus tambah kecil. Beliau tambah besar namanya”, kata Ahok di Balaikota DKI Jakarta, Senin (6/1/2014). Itu salah satu pernyataan resminya, pendapat tersebut diliput dalam situs ini. Maksudnya apa? Tujuannya membesarkan nama Jokowi agar siap dalam pemilu 2014 ini.

Setelah semuanya siap, Jokowi dengan senyum manisnya mendeklarasikan kesiapan dirinya menjadi RI1. Skenario hampir selesai. Setelah Jokowi mendapatkan posisi RI1, secara konstitusional Ahok pun mendapatkan DKI1. PDI-P berhasil menggusur partai berkuasa dan menguasai dunia perpolitikkan atas kader – kadernya yang sangat menggoda masyarakat untuk dipilih. Ini hanya pendapat gue saja terhadap momen yang sedang terjadi sekarang, ini bukan konspirasi, konspirasi itu memuakkan haha. Sah saja jika benar ini terjadi, pengambilalihan kekuasaan politik dengan mengandalkan orang – orang mumpuni tidaklah salah. Ini bukti rakyat telah cerdas. Harapan gue simple, Indonesia membutuhkan pemimpin baik yang berkomitmen tegas, semoga orang – orang itu cepat berperan di pemerintahan.

Monday, February 3, 2014

Memperpanjang STNK di Samsat Jakarta Timur [Review]

Kemarin, 9 Januari 2014, gue baru memperpanjang masa berlaku STNK gue, walaupun sebenarnya sudah terlambat hampir dua tahun untuk melakukan itu. Bagaimana lagi? Dari pada harus telat dua tahun lebih baik gue memperpanjang STNK ini di 1 tahun 11 bulan keterlambatannya. Itu berbeda lho (kata kerabat gue hahaha). Lanjut saja, gue pergi siang kira - kira pukul 10 - 11. Sempat hampir salah tempat, Samsat Kebon Nanas yang seharusnya gue tuju tapi malah ke Kapolsek Kepon Siri gue pergi. Beberapa hal gue perhatikan dalam melakukan perpanjangan STNK, gue rasa ini terjadi pada aspek lain dalam transaksi yang terjadi di kantor samsat itu. Baru masuk loby utama, sangat jelas banyak gue temukan calo berkeliaran di situ.

Menawarkan jasanya agar mempermudah kami, yang butuh pelayanan dari pemerintah. Syarat pertama adalah mengambil formulir pada front desk. Tapi dari mana kita ketahui formulir terdapat di front desk? Tidak tahu dan kita harus mencari tahu. Memasuki samsat untuk pertama kali seperti orang tersasar dan di waktu yang sama mendapat tawaran sesat (Baca: Calo). Bagaimana menciptakan pelayanan yang bersih jika lebih memudahkan tindakan pelanggaran terjadi?

Yep setelah gue mendapat formulir pendaftaran gue mencoba mengisinya, sangat membingungkan, instruksi kurang jelas sayangnya. Ini nilai (+) untuk pihak pemerintah, terdapat contoh form yang sudah terisi ditempel pada tembok dekat mengisi formulir. Jasa calo juga masih ditawarkan. Terdapat beberapa jenis jasa calo gue temui, di antaranya
  • Diurusi sampai selesai (katanya setengah jam selesai)
  • Diisikan (buat mereka yang manja)
  • Sewa pulpen (Guess what? It costs goceng! Nonsense!)
Gue keluar, gue cari penjual pulpen dan eureka! Cuma 3 ribu rupiah jadi permanen milik gue dari pada sewa dengan harga najis. Gue masuk lagi, calo masih terus menawarkan, benar - benar menyebalkan. Gue mengisi sendiri sambil mencuri - curi pandang pada orang lain yang mengisi juga untuk mencari tahu berkas apa saja yang dilengkapi bersama formulir pendaftaran itu. Karena info berkas lampiran yang tertera di form kurang informatif. Selesai mengisi form, ada beberapa hal yang tidak gue ketahui dalam melengkapi form itu dan gue bertanya pada front desk.

Front desk seperti tidak peduli pada kami, sibuk dalam mengurusi calo yang lalu lalang meminta tanda tangan agar mempercepat proses. Form telah gue lengkapi, gue menyerahkan formulir pada loket 1 di lantai yang sama, loket pendaftaran. Setelah mengantri berlama - lama ternyata bagi motor yang tidak memiliki BPKB harus mengurusnya di lantai 2. Tetap dengan pelayanan yang ketus. Tidak apa lah, mungkin mereka lelah menangani kami. Mengurus ke lantai 2 ternyata sama saja, membingungkan, gue menunggu di loket 1, yah, loket pendaftaran juga namanya.

Setelah menunggu dengan ketus pula gue dioper ke loket 8. Sungguh mengesalkan ketika gue ke loket 8 petugas hanya memberikan cap. Gue kira akan ada administrasi khusus karena belum memiliki BPKB, ternyata hanya sebuah cap yang sangat tidak jelas fungsinya. Setelah mendapat cap gue diminta ke loket 1, sungguh tidak jelas, gue kira loket 1 di lantai 2, lantai yang sama, ternyata setelah gue mengantri di loket itu gue malah kembali diberi komentar ketus untuk mengurusnya di loket lantai 1. FYI sambil mengantri di situ, sungguh memalukan seorang anggota TNI sedang menyerahkan sebuah dokumen untuk diurus dan terselip uang Rp. 50.000 di bawahnya.

Setelah itu prosedur selanjutnya gue jalani dengan gue akui cukup prosedural SOP-nya. Mungkin ini hanya pandangan subyektif gue, tapi beberapa kali gue menemukan seperti hanya calo yang mengantri dan mendapat layanan cepat di antara kami, yang benar - benar mengurus STNK. Sisanya standar dan tetap sikap udik manusia yang tidak mau mengantri malah memperburuk loket proses pengambilan di setiap - setiap loket yang tersedia. Sungguh gue sesali hari itu terjadi di instansi pemerintah yang notabene telah digaji oleh rakyat dan ditugaskan sekaligus bermoto "Melindungi, Mengayomi dan Melayani Masyarakat".

Tanggung Jawab Lahiriah Pria

Tuntutan hidup semakin tinggi di awal peralihan hidup menuju mandiri. Banyak yang berkata masa - masa indah merupakan masa sekolah, tak terlupakan sepanjang hidup. Gue katakan itu omong kosong, masa tak terlupakan adalah jenjang hidup kalian semasa menuju dewasa dalam usia. Ketika kalian menginjak usia 20 sampai 30. Terutama kita para pria.

Gue tidak bermaksud membedakan gender, gue akan menjelaskan bagaimana ini terjadi. Pria merupakan kepala keluarga di keluarganya; bahkan bisa saja di keluarga ayahnya, mungkin juga di keluarga mertuanya. Ketidaksiapan mental hanya membuat lo menjadi pengecut. Semua pria seharusnya sadar, mereka harus sedang mengejar puncak karir pada rentang usia 30 - 40 tahun. Ini menentukan bagaimana lo menghabiskan usia tua lo. Bersama keluarga atau semakin terlelap bersama beban tuntutan hidup dan tua sebagai pekerja.

Pada rentang usia itu, lo sudah harus bermodalkan keluarga kecil lo yang masih berusia "muda", harta yang cukup; dalam artian mampu menafkahi keluarga kecil lo itu dan berada pada bidang karir yang tepat juga prospek yang jelas. Lo harus mampu memenuhi syarat - syarat itu. Itu sangat sulit, dengan penduduk bumi yang milyaran dan bidang yang terbatas. You must be special! Lantas bagaimana kita memenuhi syarat - syarat tersebut?

Kita membentuknya sesegera mungkin saat kita masih di fase remaja. Beberapa orang memulainya dengan sangat cepat, banyak yang mainstream, ada pula yang cukup lambat dan tetap stagnan pun juga ada. Lihat sekeliling lo, orang - orang semakin pintar, kesenjangan semakin memburuk, pendidikan & rumah semakin mahal juga jauh, lalu keluarga; sesuatu yang lo harus bangun sebelum lo berusia 30 tahun dan tebak? Membuat sebuah pernikahan yang bisa lo kenang bersama semua keluarga dan kerabat lo pun tidak murah. Jika lo pikir lo belum bisa mengatasi beberapa hal di antara itu, lo harus bergegas sekarang. Bertindak sekarang man!

Yah ini tentang tuntutan hidup, ini tentang uang. Uang mungkin tidak menentukan kebahagian lo, tapi uang merupakan satu di antara faktor terpenting dalam pembangunan kebahagiaan. Kecuali lo merasa cukup hidup dari perkebunan lo yang lo tanami sendiri, tuai dan konsumsi sendiri tapi bahkan dengan begitu pun lo tetap hidup bersama PAJAK. Ini mengapa gue memokuskan pada kami para pria. Bagaimanapun wanita berkarir, hidupnya akan diakhiri atau dibagi sebagai seorang ibu. Sebuah tuntutan hakiki. Dimana tuntutan menafkahi itu sepenuhnya bertumpu? Pria, ini sudah merupakan nilai esensi yang berlaku sejak dulu.

Monday, December 9, 2013

Imajenasimu 1000 Abad Terlalu Maju [Repost]

Gue lagi reunian sama blog lama gue, lucu juga menemukan tulisan - tulisan lama gue. Ketemu artikel yang mengingatkan pada obsesi gue yang sampe sekarang masih gue bangun. Just check it out fellas!

TUESDAY, 7 FEBRUARY 2012

Imajenasimu 1000 Abad Terlalu Maju.

Seberapa sering lo diragukan tentang mimpi lo? tentang obsesi lo? atau tentang seberapa besarnya keinginan lo untuk meraih suatu poin? Yah gw sering, bukanlah suatu hal yang nyaman ketika lo mengalami hal tersebut dan tidak sering pula kita menutup diri karena hal itu.. membuat kita menjadi kecil dan gagal berkembang. Yah gagal! Karena lo berhenti karena lo mendengarkan orang yang meremehkan lo. Sial itu sakit banget.

Mari kita ulas balik ke awal, masih inget identitas lo yang dulu yang sangat lemah dan liat sekarang begitu hebat. Ingat itu baik-baik dan orang yang meremehkan lo hanyalah orang yang tidak mengerti. Percayalah sama apa yang lo percaya, omongan orang lain hanyalah udara kecil; udara yang jika lo hirup bulat-bulat bisa membawa dampak yang baik atau buruk bagi lo dan tinggal hanya lo yang pintar-pintar menyaringnya.

Berkali-kali gw bahas disini, The Power of Dream itu amajing banget lah dan mimpi itu tidak pernah mengenal batas.. so siapa yang punya masalah sama mimpi? Tuhan pun tidak melarangnya! Lalu kenapa masih ada manusia yang mengugat mimpi orang lain? Karena mimpi itu berjalan terlalu jauh, berjalan diambang logika manusia. Oke lah mereka lebih mengerti, oke lah lebih berpengalaman tapi siapa yang tau versi lo ketika lo menjalaninya.

Jangan pernah terhasut oleh orang lain, percayalah dan kejar terus. Keberhasilan itu janji buat orang yang mau maju walau cuma selangkah demi selangkah untuk mengambilnya dan nyatanya belom ada orang yang berhasilblink seketika ke arah keberhasilan tersebut. Jika adapun gw mau berguru sama itu orang. Jadi lo masih takut untuk bertindak ketika mendengar omongan orang lain? Pikir baik-baik kawan. :D 

Wednesday, September 18, 2013

Konservatif Atau Bodoh Beragama?

Dunia bergejolak, berubah & berkembang melampaui apa yang telah kita biasakan. Kebiasaan baru diadaptasikan bukan untuk melawan aturan lama tapi demi mencapai tujuan yang hakiki dengan cara lebih baik. Tak semua orang menerima perubahan, apalagi terhadap hal mendasar yang telah diberlakukan sejak dulu. Sering kali tanggapan kontra timbul terhadap suatu perubahan, perubahan yang diciptakan dianggap mencoreng kepercayaan.

Takut? Yah bisa saja, perubahan bisa dianggap sebagai ancaman. Dianggap sebagai pengalihan orientasi terhadap apa yang dipercaya awalnya, pengalihan dengan tujuan mengubah apa yang kita percayai selama ini dan menjadi sesat -- merusak kepercayaan tersebut. Hal ini wajar karena sebagai orang yang melakukan suatu kepercayaan pasti menjaga apa yang dipercayainya, yup tidak ingin diragukan. Klasik, sifat dasar manusia.

Sayangnya kita tidak bisa menghentikan terbitnya matahari, perubahan musim atau apapun yang alam sudah janjikan, begitupun keingintahuan manusia. Keingintahuan memberikan pengalaman & pemahaman baru. Sebelum mengenal alat tukar (uang), persembahan rasa syukur kepada Sang Khalik sering kali dilakukan dengan pembakaran hasil panen, perubahan dunia memaksa kebiasaan konservatif tersebut. Surat debit (uang) dalam dunia ekonomi malah dijadikan alat persembahan tanda bersyukur. Buatan manusia demi kebaikan ilahi.

Yah kebaikan ilahi, demi tercapainya Kemuliaan Tuhan. Kita memuliakan Tuhan bahkan dengan cara yang tidak lagi konservatif. Oia aku takut salah kaprah, Tuhan memang mulia, tapi dalam kasus ini kita memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Sebuah arti bahwa kita memaknai kehadiran Tuhan dalam hidup kita dengan mulia. Apakah memuliakan Tuhan dengan cara konserfativ patut untuk tetap dipertahankan?

Seperti yang ku katakan tadi, jelas ini kontroversial. Hal - hal yang telah lama diberlakukan dianggap suci untuk ditinggalkan, meninggalkan hal tersebut dianggap dosa. Termasuk pola pikir manusia, yah ini lah intinya, pola pikir manusia.

Baiklah harus kuakui beberapa hal dasar yang dilakukan dalam memaknai ketuhanan tak ada salahnya dipertahankan, demi tercapainya kenikmatan sejati kita bertuhan. Itu hal individual yang tak satupun berhak melarangnya selama itu tak melanggar aturan yang sah & mendasar secara agama & hati nurani manusia. Namun sering kali yang kutemukan hanya doktrin & dogma agama yang dipercayai, bukan Tuhan sejati yang bebas.

Berhenti mengotakkan Tuhan, bagiku itulah kejahatan terbesar manusia. Berkata seolah itu yang Beliau inginkan dan pikirkan, hanya berlandaskan kebiasaan - kebiasaan lama yang diberlakukan tanpa ada peresapan makna keilahian dalam kebiasaan tersebut. Perubahan dunia akan membuka mata kita tentang apa yang Tuhan ciptakan dengan logisnya, teori - teori konservatif tanpa peresapan makna akan menolak itu membawa kita menuju dua arah. Kehilangan arah dan meniadakan Tuhan, mencari tuhan baru atau malah berkutat bertahan, menutup diri -- menjaga sosok Tuhan sesuai apa yang telah diajarkan kepada kita, doktrin. Konserfativ atau tidaknya ada baiknya kita memahami makna terkandung dalam peribadatan yang kita lakukan demi Tuhan.

Thursday, September 5, 2013

Istana Jidat Sendiri

Muak dengan omong kosong ini, dunia lain, palsu penuh keegoisan. Semua mengharapkan kesempurnaan tapi bertahan dalam zona nya masing - masing, saling menjatuhkan, mendorong keinginan perubahan. Munafik, semuanya munafik.

Sepaham, mungkin iya, semua sepakat mempertahankan idealismenya sendiri - sendiri. Ketidakpedulian pada nilai - nilai baik yang hakiki. Mungkin kebaikkan sudah ketinggalan jaman, sudah tidak lagi menarik diperjuangkan. Asing menjadi baik.

Mau bertahan lama? Dunia berkembang, begitupun individunya. Semua berjalan menjauh mengikuti idealismenya, hanya ikatan darah yang mengikat, tapi apalah Ayah tiri menjadi lebih manusiawi dari pada Ayah kandung. Ikatan permanen apapun fana sekarang ini.

Hingga suatu saat badai mengganggu, menggrebek kami pada ruang remang kesenangan pribadi memaksa menyatukan atas nama kesedihan, memilukan. Air mata beku yang jatuh, rasa kehilangan palsu, ketika matahari mulai nampak kami berlindung dalam masing - masing ruang remang.

Beginikah diteruskan pada anak cucuku? Mereka akan merasakan kesedihan Ayah Kakek Buyutnya, hingga mereka menjadi besar di luar yang sebelumnya diperkirakan. Menurunkan apa yang diadaptasikan, menjadi dingin dan hilang. Hangatnya api unggun yang dinikmati di gelapnya hutan telah padam, berkelana masing - masing, tersesat dan menjauh.

Tuhan memang pembunuh perasaan yang baik, dalam pengadaptasian dunia kesendirian dimana aku ditumbuhkan, diberikan oleh-Nya bibit kepedulian yang tumbuh merusak dogma ku atas apa yang dunia perlakukan padaku. Baiklah Tuhan, Kau melakukan ini dengan baik. Tapi aku muak.

Saturday, March 16, 2013

Mount Bromo Trip. [III]

Akhirnya sampai juga di perumahan Suku Tengger, malam itu cukup indah, bintang terlihat jelas. Berbeda dengan kota yang langit malamnya berwarna oranye. Begitu sampai kami dihampiri jasa atau mungkin calo yang menawarkan Jeep. Ada dua pilihan wisata, 2 titik atau 4 titik. Gw tidak hapal betul tarif 2 titik wisata, mungkin sekitar 400 - 500 ribu jika tidak salah dan 4 titik dengan tarif 750 ribu. Dengan beberapa perundingan dan juga tawar - menawar akhirnya kami memilih tujuan 4 titik wisata dengan harga 650 ribu *tarif penyewaan Jeep dan supirnya* dengan tiket masuk yang kami tanggung sendiri. Setelah tawar - menawar itu kami berfoto sebentar lalu beristirahat sebelum nanti sekitar pukul 4 subuh kami memulai perjalanan kami menggunakan Jeep menuju pendakian pertama Gunung Bromo, tempat kami menyaksikan matahari terbit.

Tiba saatnya kami berangkat, menurut gw sih istirahat tadi cukup namun teman - teman yang lain sepertinya tidak, mereka masih mengantuk. Sebelum masuk ke kawasan wisata kami harus membeli tiket terlebih dahulu sambil mampir buang air kecil dengan antrian yang cukup lumayan dan tarif toilet yang cukup menggila. Tak apalah. Benar, teman - teman belum merasakan istirahatnya tadi dengan baik, sepanjang perjalanan menuju titik pertama semua tertidur kecuali gw dan supir walaupun dengan jalan yang memang tidak rata, namanya juga jalan gunung. Sepanjang jalan benar - benar gelap - gulita, kami tidak berangkat sendiri saat itu, banyak rombongan Jeep lain yang memiliki tujuan yang sama sehingga jalan yang nampak "buta" tersebut setidaknya cukup jelas arahnya. Setelah melewati padang pasir di daerah itu, kami naik lagi dengan tanjakan yang cukup terjal. Seperti yang gw bilang pada artikel sebelumnya, medannya memang berat, mobil - mobil kota takkan mampu melewatinya. Di perjalanan itu gw temui beberapa pengendara motor yang juga sedang naik menuju tujuan yang sama, beberapa tumbang dan harus menepi karena mesin yan tidak kuat. Di samping pengendara Jeep yang tidak memacu pelan kendaraannya, dengan medan terjal begitu memang tidak mungkin memelankan kecepatan dan juga malam itu sudah dapat dipastikan tidak ada yang turun ke bawah melawan arus naik.

Titik Pertama :

Tempat kami menyaksikan matahari terbit, akhirnya kami sampai. Perbedaan suhu yang cukup signifikan dibanding di perumahan Suku Tengger tadi, memang dingin di tempat tadi, tapi ini benar - benar dingin. Perlahan kami menaiki tangga menuju tempat tertinggi di tempat itu, suhu yang dingin dan minim pencayahaan menahan kecepatan kami. Sudah ramai di tempat itu, sulit sekali mendapat tempat terbaik. Subuh itu kami menunggu, menunggu sang surya untuk terbit. Di antara kami tidak ada yang tau arah timur pada daerah itu sehingga hotspot yang sebenarnya telah kami tempati malah kami tinggalkan dan itu ulah gw haha. . . Matahari mulai terbit, semua orang berkumpul di tempat yang lebih mengarah timur, kami harus mencari celah demi mendapatkan sudut terbaik dengan kondisi yang sudah ramai itu agar matahari terbit terlihat setidaknya cukup jelas. Gw bersama Unyi mencari tempat lain, yang terlewatkan oleh orang lain. Ternyata ada, walaupun matahari sudah cukup "di atas" tapi tak apalah lanjutkan saja. Selesai itu kami mencari mushola, teman - teman gw ingin melaksanakan ibadahnya. Suhu itu memang dingin, banyak yang melewatkan ibadahnya waktu itu tapi teman gw tak mau. Kesulitan air tak menghambat mereka, wudhu menggunakan pasir pun dilakukannya. Lalu kami turun sedikit lagi di mana kios - kios menjajakan dagangannya untuk sarapan, 2 buah pisang goreng, mie ukuran dobel dan jahe hangat menjadi menu sarapan gw pagi itu.




Titik Kedua :

Tujuannya kali ini kawah belerang, kami ada batas di mana mobil Jeep harus diparkirkan sehingga kami harus lanjut menuju kawah itu dengan berjalan kami di tengah hamparan Padang Pasir Bromo dan kotoran kuda yang tak jarang kami temui. Untuk informasi, mayoritas penduduk Suku Tengger itu adalah pemeluk agama Hindu, tak asing ketika gw menemukan satu - satunya bangunan di tengah padang pasir itu, sebuah Pure yang sepertinya telah dibangun cukup lama karena terlihat sangat natural dan handmade menurut gw. Itu cukup melelahkan, selain karena matahari yang cukup cerah sehingga pasir - pasir itu memantulkan cahaya dengan cukup baik juga medan perjalan yang menanjak ditambah dengan bau kotoran kuda yang menyengat. Yeay! Perjalanan itu memang berbukit namun sebelum tiba di kawah kami menaiki sebuah tangga yang konon siapa pun yang menghitungnya pasti takkan pernah sama jumlah anak tangganya. Yah jelas, perjalanan naik itu dilakukan dengan perjalan yang cukup jauh sekitar 1 kilometer atau mungkin lebih menurut perkiraan asal gw dan uap belerang yang semakin mendekat maka semakin tercium baunya. Setiba di atas pun kami tak lama, napas kami sesak, mata kami pedih, kandungan belerang di atas situ cukup kuat. Anehnya demi view di situ, tak sedikit orang tua yang membawa balita dan bayinya, cukup mengecewakan. Setelah itu kami langsung turun. Di perjalan turun, lagi kami bertemu senior kami dari SMK yang sebelumnya bertemu di kereta. Reuni kecil sempat kami lakukan lagi.

Titik ketiga:


Inilah bukit teletubies, tak seperti yang gw bayangkan sebelumnya. Ada sebuah rumah kecil ala Hobbit di film trilogi Lord of The Rings, matahari bayi, kelinci liar yang bersahabat dengan makhluk teletubies atau mungkin kios penjual kue tubbie setidaknya. Ternyata julukan itu diberikan karena wilayahnya yang berbukit, sangat ingin menaklukan bukit - bukit kecil itu dan tidur di sana, seperti yang dilakukan para teletubies, namun kami sedikit cukup merasa lelah dan juga matahari sudah cukup terik. Kami mencari daerah dekat yang jarang ilalangnya, gw dan Yoga tidur di situ sementara teman yang lain hanya duduk - duduk saja beristirahat. Entah berapa lama gw tertidur saat itu, matahari membangunkan gw dengan teriknya. Sial benar - benar panas. Gw langsung terbangun dan begitu pun Yoga, kami menuju sebuah PKL di dekat Jeep kami di parkir sambil diikuti yang lain di belakang. Ternyata mereka juga merasakan yang sama, akhirnya kami melanjutkan ke titik yang terakhir saja.

Titik terakhir:

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari tempat ini, hanya saja jika kita memilih sudut yang tepat, foto - foto yang kita ambil di situ akan terasa arabian desert wannabe pada hasil potretannya. Hanya sebentar saja, bahkan Linda dan Yoga tak ikut turun, selain suhu, angin yang berhembus membawa banyak pasir dan itu terasa tidak nyaman bagi kami, kami langsung menuju Jeep saja. Kali ini gw dan Iinu bertukar posisi duduk, awalnya dia di depan bersama Linda. Diubah karena Unyi, Ulul, Iinu dan Yoga ingin bermain poker bersama di belakang. Unyi diam - diam tertarik juga akan permainan itu dan mereka bermain sepanjang perjalan kami kembali ke perumahan Suku Tengger.

Kembali. . .

Setibanya di perumahan Suku Tengger, kami langsung berpaling ke Malang. Lelah sudah jelas terasal. Hanya Yoga dan Ulul yang benar - benar terjaga sepanjang perjalanan sementara sisanya sesekali tertidur. Istirahat memang perlu, kami tiba pada kondisi di mana Yoga menggila dalam membawa kendaraan yang kami naiki. Tepat di belakang kami sebuah tronton terus membunyikan klaksonnya, bukan kepada kami, tapi kepada mobil Jeep jauh di depan kami. Mobil itu berjalan pelan di ruas jalur cepat, tak tahu sengaja, tak tahu atau iseng. Tertahan 4 mobil di belakangnya dan beberapa motor. Tak tahan, Yoga memacu kendaraan melawan arah. Gw sadari 1 hal, pengemudi Jeep tersebut itu sepertinya bodoh dalam berkendara. Dia tetap menjaga posisinya dan mobil di depan kami sudah sangat dekat. Tuhan masih melindungi perjalanan kami, kami selamat. Salah saja maka itu adalah kecelakaan mobil, gw yakin betul Yoga dan Ulul takkan turun dari mobil dengan keadaan normal lagi.

Akhirnya kami benar - benar bisa beristirahat, Unyi dan Ulul tak langsung istirahat. Ulul harus menemani Unyi mencari langsung tiket pulang menuju Jakarta, urusan bisnis menunggunya lusa, jika berangkat bersama kami maka dia akan melewatkan rapat penting itu. Walaupun harus ngeteng yang notabene lebih mahal, jauh dan lebih melelahkan tapi itu tetap dilakukannya. Sorenya Iinu bersama Yoga mengembalikan mobil, Linda dan gw lanjut beristirahat. Setelah Ulul selesai menemani Unyie sampai berangkat dan Yoga dan Iinu pun selesai kami mencari makan malam. Tidak mungkin gw dan Yoga tidur di kos Iinu maka kami berpindah ke kos Ulul. Yoga langsung tertidur tak lama kami merebahkan badan di kasur Ulul. Paginya dia langsung berangkat ke Yogya dan sore sekitar pukul 4 gw dan Linda juga berangkat menuju Jakarta.

@Stasiun Malang

@Stasiun Jatinegara, Temenin Linda Menunggu Kereta ke Bogor.



Thursday, March 14, 2013

Mount Bromo Trip. [II]

Iinu's secret weapon?!
Sekarang lanjut review gw setibanya di Malang setelah perjalanan yang cukup panjang tadi. Teman kami, Iinu, sudah menunggu di terminal untuk memandu kami menuju kos-nya. Check point pertama, kos Iinu. Oia satu hal yang menarik perhatian gw, jalan - jalan di Surabaya yang jalan utamanya terdiri dari 3 ruas dimana ada taman cukup ramai tanaman sebagai pembatas antar arah berlawanan dan pepohonan rindang di situ dan di tepi jalan di perjalanan gw sebelumnya dari stasiun menuju terminal cukup menyegarkan apalagi bila diingat itu sebuat kota dibanding kota tempat gw tinggal yang cukup gersang. Berbeda dengan Malang, jalannya cukup rumit, tidak sedikit gw temui perempatan jalan. Sungguh membingungkan bagi mereka yang baru tiba di daerah itu termasuk gw, tapi tak apalah, ada Iinu sebagai guide.

Istirahat sambil menunggu Ulul yang sedang memraktekan materi kuliahnya, mengamati dan menyimpulkan reaksi ikan yang diberi deterjen. Gw masih kurang paham dengan tujuan itu, yang gw tau, gw bisa langsung simpulkan efeknya pada ikan itu. Mati. That's all. Tapi secara ilmiah dan mungkin dibutuhkan data dan fakta mengenai dampak limbah rumah tangga terhadap ekosistem maupun ikan itu. Sekaligus gw bersama Linda menunggu Yoga dan Iinu yang sedang pergi menyewa mobil dengan motor Iinu sebagai jaminannya. Hanya Yoga yang bisa mengendarai mobil saat itu, namun menurut gw Yoga masih kurang berpengalaman sehingga terjadi beberapa kali mati mesin saat mengoper gigi but afterall our trip, he's a cool driver.

Watch out!! Yoga was driving.
Setibanya malam, yah karena kami ingin menyaksikan sunrise dari Gunung Bromo jadi kami memutuskan berangkat di waktu itu. Sebelumnya kami mampir di daerah Batu, nama yang aneh, tapi di sana ada tempat wisata kuliner yang asyik. Ada tansu (Baca: Ketan Susu) yang legendaris, katanya, pokoknya tansu dari Kemayoran, Jakarta gak ada tandingannya. Itu enak -- Udah gitu aja. Di awal kami ditolak oleh dua kios pedagang karena mereka kehabisan stok dan anehnya gw perhatikan pelanggan mereka seperti terus bertambah padahal dengan kondisi mereka yang kehabisan stok.

Selang dari kios pertama ke kios selanjutnya, kami sempatkan naik bianglala. Itu cukup seru lho, pemerintah di sana sepertinya tau betul cara menghibur warga, cukup tiga ribu sudah bisa menikmati itu dan anehnya di hari libur itu tidak ada antrian. Mungkin warga di sana sudah bosan, tapi bagi turis lokal kayak gw itu hiburan. Selesai dari itu dan penolakan kami di kios ke dua dan mulai putus asa dengan menu tansu malam itu, kami bertolak ke kios susu segar, bukan STMJ -- gw gak tau artinya apa -- yang kata Jupe sampai tumpeh - tumpeh. Itu enak dan inilah yang mungkin disebut orang lain takdir, the real legendary tansunya malah ketemu dan doi masih jualan. Gak sia - sia akhirnya, sambil nunggu pesanan kami yang memang lama, tidak gw ragukan pelanggannya mengantri, peluang bisnis sepertinya, Linda, Iinu, Yoga dan Ulul pun bermain poker dan gw bersama Unyi hanya menonton. Cukup lama kami menunggu dan rasa penasaran timbul kapan kami dilayani..... Oalah ternyata pesanan kami terlewat, setelah itu kami langsung dilayani dan mendapat pesanan kami.

Kenyang dengan tansu dan susu segar kami berpaling ke Gunung Bromo, seperti yang gw bilang tadi mengenai pengalaman Yoga menyetir. Akhirnya kami pun berinisiatif untuk berusaha tidak terlelap untuk menemani Yoga sampai tujuan. Apalagi dengan kodisi jalan yang menanjak, itu kenapa gw salut sama dia karena sukses membawa kami sampai ke atas. Walaupun terjadi sekali secara tidak sengaja mesin mati ditanjakan karena kami berpapasan dengan mobil yang turun sehingga Yoga harus menurunkan kecepatan sambil menjaga agar mobil tidak mundur, semua terdiam seperti menahan napas seolah hembusan napas bisa mendorong mobil mundur ke jurang. Mungkin berlebihan tapi begitulah momen itu berjalan. Selanjutnya perjalanan kami cukup mulus sampai akhirnya sekitar pukul 2 pagi kami tiba di check point kedua, perumahan Suku Tengger untuk selanjutnya menaiki Jeep yang disupiri oleh warga sekitar yang berpengalaman terhadap jalur Gunung Bromo karena medan yang ditempuh cukup berat bagi mobil biasa dan berbahaya bagi mereka yang tidak tahu betul wilayah itu.

Wednesday, March 13, 2013

Mount Bromo Trip. [I]

Tulisan ini gw buat demi membunuh waktu dalam perjalanan kembali kami ke Jakarta dari Malang. Sudah kira - kira 11 jam sejak keberangkatan kami dari Malang sekitar pukul 15.40 karena kereta yang kami naiki ditunda keberangkatannya untuk hal yang tidak jelas yang seharusnya berangkat pada 14.50. Cukup terasa sepi kepulangan kami sekarang, selain lelah beberapa dari kami harus pergi meninggalkan terlebih dahulu karena urusan bisnis dan ada pula yang melanjutkan perjalanannya ke tempat lain sehingga hanya tersisa kami berdua pada perjalanan pulang ini. Gw dan Linda.

Semua ini bermula dari keinginan salah satu dari kami, gw lupa siapa itu, di antara Unyi dan Yoga untuk melakukan backpacking ke Gunung Bromo. Tentunya dibarengi dengan tujuan awal untuk berkunjung ke dua teman kami, Iinu dan Ulul, yang sedang menyelesaikan pendidikan strata satu mereka di Universitas Brawijaya, Malang. Dari Jakarta kami berangkat berempat, gw, Yoga, Unyi dan Linda. Pada 15.35, 9 Maret 2013 kami berangkat menuju Surabaya, kami kehabisan tiket langsung menuju Malang sehingga harus ngeteng. Perjalanan yang cukup melelahkan bagi gw, itu pertama kalinya bagi gw untuk bepergian dengan kereta dengan jangka waktu yang cukup lama, 13 jam perjalanan kami. Itu pun terjadi pada yang lain, hal konyol pun terjadi pada Yoga, membeli koran yang diniatinya untuk dibaca diperjalanan yang ternyata dijual hanya untuk alas tidur. Alhasil dia kebingunan dengan koran yang dibelinya yang notabene waktu beredarnya sudah cukup usang dan hanya beberapa lembar saja. Sampai kami harus menjelaskan koran yang dibelinya bukanlah berita lagi melainkan alas tidur.

Oia sebenarnya seharusnya Yoga berada pada jatah kursi penumpang yang berbeda dari kami bertiga, karena dia membeli tiket di waktu yang berbeda dengan kami. Untunglah tempat kami tidak terisi penuh oleh penumpang lain, walaupun katanya tiket telah sold out tapi banyak sekali kursi kosong, gw tau itu ulah calo, tepat di posisi berhadapan tiga kursi, dua di antara depan kami kosong sehingga Yoga bisa bergabung dengan kami ditambah satu pria yang bergabung dengan kami, Mas Andi jika tidak salah namanya. Lima orang menuju Surabaya namun Mas Andi turun terlebih dulu karena tujuannya adalah Semarang. Sebelum berangkat Unyi dan Yoga pergi menuju kursi yang nomornya sesuai tertera pada karcis Yoga dan bertemu beberapa senior kami sewaktu SMK dulu, sempat terjadi reuni kecil saat itu.

Lari Nyi, Lari!
Di sepanjang perjalanan gw menyaksikan kehebatan Indonesia, lautan sawah membentang luas. Cukup melegakan mata ibukota ini yang sudah kenyang "dicekoki" muram dan sibuknya kendaraan. Lalu menjadi pertanyaan kecil mengapa kita harus mengimpor beras. Ah tidak gw pikirkan terlalu dalam, gw ingin berlibur. Sekitar pukul 5 pagi akhirnya kami tiba di Surabaya, tak lupa berfoto ria di stasiun Surabaya, terjadi momen lucu ketika Unyie secara tidak sengaja mengatur kamera dengan delay waktu yang hanya dua detik dan dia harus berlari menghampiri kami yang sudah siap berpose. Tentu dengan gap yang sedikit itu Unyi tidak bisa bergabung berpose bersama, hanya terlihat sekelias Unyi sedang berlari. Momen itu diulang, tentunya dengan gap waktu yang diperlama menjadi 10 detik agar cukup waktu bagi Unyi untuk menyetel kamera lalu berlari berpose bersama kami dalam sesi pemotretan itu.

Tak lama pemotretan itu, teman gw harus melaksanakan ibadahnya . Gw menunggu mereka menyelesaikan itu sebelum kami melanjutkan perjalanan kami mencari sarapan dan terus menuju Malang. Sewaktu sarapan gw melihat seorang penarik becak yang sudah cukup tua pada kondisi yang memrihatinkan bagi gw. Tidak bisa melakukan apa - apa, gw berharap beliau bisa membaik. Setelah sarapan kami berpaling menuju terminal Surabaya dan selanutnya naik bus menuju Malang, akhirnya mendapat kursi dengan posisi nyaman. Sepanjang perjalanan gw terlelap.

Perjalanan Menuju Terminal Surabaya.


Sunday, February 3, 2013

Menulis

Ini menjadi salah satu hobi gw sekitar 3 -  4 tahun belakangan ini dan menjadi sangat intens 2 tahun terakhir. Sewaktu kecil gw sempet mau melakukan ini, tapi gw merasa kurang percaya diri lalu gw hentikan hingga satu orang menginspirasi gw dengan blognya. Terima kasih buat salah satu teman baik gw semasa SMK karena dia yang berlangganan blog tersebut dan gw hanya sekilas melihat dan ikut membaca lalu gw menemukan kepercayaan diri karenanya.

Namanya Aldy Shekoski, itu cuma nama samarannya dan gw lupa nama aslinya siapa. Gw gak akan bahas banyak tentang dia karena gw cuma menjadi silent reader di blognya beberapa saat, karena ketika membaca beberapa artikel buatan dia maka langsung terbesit di pikiran gw. Yeah gw juga bisa! Tulisan dan bahasa yang digunakan dalam artikel - artikelnya menggunakan bahasa yang menarik tapi sangat polos (bukan artian innocence but pure himself). Perihal itu yang membuat gw kurang pede dulu. So first, i want to thank to that man, Aldy Shekoski.

Next, menulis ini banyak manfaatnya. Gak usah jauh - jauh memberikan dampak pada orang lain, gw gak pernah mengharapkan lebih dari tulisan - tulisan yang gw buat. Somehow ini menjadi kesenangan tersendiri, dulu sebelum tidur gw selalu memikirkan banyak hal tentang dunia. Dari overview scene hari itu, impian, sex, orang di sekitar gw, politik, ketuhanan, more, more and damn pikiran gw terlalu rumit. Menulis mengurangi semua itu, malam hari sebelum tidur gw menjadi simpel. Beberapa orang tiba - tiba menjadi maniak hal ini ketika sebuah trend naik, yah Raditya Dika. . . dia yang buat trend blogging naik dan gw muak orang yang heboh dan terbuai akan trend. Percayalah, sebentar itu booming dan suatu ketika mereka pengikut trend ini menghilang mengikuti trend lain.

Di samping itu yah bisa dibilang gw terbawa trend juga. Orang - orang besar kebanyakan menulis dan beberapa yang menginspirasi gw pun melakukan itu. Sebenarnya sih bukan trend bagi gw, bagi gw orang - orang sukses atau inspirator gw itu menulis pasti untuk menuangkan isi pikirannya agar tidak berlalu begitu saja. Juga pelajaran lain yang gw ingat, agar dapat menggapai impian lo maka kerjakanlah hal positif yang dilakukan mereka yang berhasil melakukannya. Yup kaya yang dikatakan motivator - motivator itu.

Banyak hal untuk mengekspresikan diri lo. Musik, warna atau tulisan. Semuanya memiliki kesulitan tersendiri tapi menurut gw yang paling simpel yang menulis. All you have to do is write. Menulis gak susah, kita melakukan ini hampir sepanjang waktu hidup kita -- tinggal menemukan gaya menulis yang pas menurut kita saja. Musik dan warna pun memiliki cara yang sama, intinya temukan dan tuangkan jati diri kita ke dalam karya itu. Sangat asyik!

Tulisan - tulisan ini menuntut kita untuk berinspirasi dengan konkret dan terstruktur walaupun kadang ada arti yang diawang - awang seperti puisi yang maknanya tersamar tapi tetap nyata secara emosi. Kebiasaan ini membuat kita berpikir jernih dalam hidup (beeuh mulai jadi idealis gw). Gak habis rasanya menulis itu, kecuali inspirasi dan waktu yang menghentikan.

Sunday, December 9, 2012

How To Build A Programme

Okay i just passed Algorithm & Programming [QBASIC] mid-semester test, the questions weren't too complicated but the time is pretty tight. So i choosed 2 question, one which was medium level and the easiest one. I want to explain the medium one. There was a song, sung like this :
4 bebek turun, mati 1 tinggal 3
3 bebek turun, mati 1 tinggal 2
2 bebek turun, mati 1 tinggal 1
1 bebek turun, mati 1 tinggal induknya
The number of duck which down to the street is a dynamic number refering to what user input, so it can be any number. Every time they down to the street there always be death for one of them *what a pity*, that's why i call it "Duck Genocide" application. So here's the troubleshooting.

1. Find the pattern

Every time you have a case of programming you should find the main idea of the programme, the pattern is really important. In this case is a decreasing number of duck population, every line is looped refering to first number of duck. Decreased line by line and when we have no duck left, there's only their mom. Per line there's two dynamic value, the duck number every time they down to the street and the one after the duck death. So mathematically *what the fuck do i say about math #Geez!* :
The First Line, Duck Number - Line  = Left Duck
Next Line, Left Duck - Line = Left Duck
The Latest Line, Left Duck - Line = Mommy Duck
On the other way, line also can be called by looping time. We can prove it with the song,
Line / Loop 1, 4 bebek turun, mati 1 tinggal 3
Line / Loop 2, 3 bebek turun, mati 1 tinggal 2
Line / Loop 3, 2 bebek turun, mati 1 tinggal 1
Line / Loop 4, 1 bebek turun, mati 1 tinggal induknya

2. Collect Variables We Need

There's a static data, there's the dynamic one. You have founded the pattern, what things we need to accommodate the dynamic value which are proccessed. The first duck number per line and duck number left after the death. We need two variables, just call it "A" for the first duck number per line and "B" for the other one. One more thing, "N" for the number which is input and "i" for the looping time / line number.

From the pattern we had there's a gap, "A" variable is doubtful, it should be one but there is more. We should join them, the first line is the duck number which is input by user and the decreased one from the next and latest line. To join them together on decreasing loop without loosing input value by user then we should increase it while decrease it, haha it's pretty confusing. 
4 bebek turun, mati 1 tinggal 3
3 bebek turun, mati 1 tinggal 2
2 bebek turun, mati 1 tinggal 1
1 bebek turun, mati 1 tinggal induknya
See the number i bold, if we just decrease it then the proccess will immedeately decrease the first number which is 4 to 3 so the song will be started with 3 ducks and in the same time "A" shouldn't reach null number while "B" does in looping. That's why "A" should be increased while being decreased. The formula should be like this, A = N - i + 1 and B = N - i meanwhile "B" and "A" almost have the same formula so we can change "A" formula to this A = B + 1 but "B" should be processed before "A" so computer will recognized the "B".

3. Mix It!

You have the pattern and the variables you need. So let's mix it! We build it using QBASIC.