Showing posts with label Intermezzo. Show all posts
Showing posts with label Intermezzo. Show all posts

Wednesday, April 3, 2024

Naurielle Charlotte

Obsesi gue ketika punya anak adalah menamai mereka menggunakan pattern <Nama Malaikat> dan <Nama Ratu / Raja>. Satu hal kebiasaan lainnya adalah, di keluarga besar gue terdapat adat dimana anak yang baru lahir diberi nama keluarga pendahulunya. Entah kakek, nenek, paman, tante, kakak-beradik kakek / nenek atau entah susunan keluarga yang kian rumit. Sebagai pengenal, memoriam pada keluarga yang terpisah oleh waktu  dan ruang.

Nama gue sendiri, Siby adalah nama keluarga nenek dari oma gue. Rumit bukan? Di keluarga nya dulu hanya ada anak perempuan, akibat adat patriarki, nama keluarga nya hilang. Nama gue menjadi memoriam bahwa kami masih memiliki kekerabatan dengan siapapun bernama belakang Siby. Tidak melulu nama keluarga, om gue salah satunya diberi nama adik oma gue. Adiknya meninggal di usia muda, padahal hubungan mereka erat dibanding kakak beradik lainnya. 

Kedua dasar tadi gue jadikan pedoman dalam menyusun nama anak, walaupun realita tidak seidealisme seperti itu. Istri gue memiliki ide tersendiri. Tidak serumit gue, pun begitu menjadi elemen tersendiri, Narel, begitu lah sebagaimana keinginan nya.

Naurielle sendiri adalah hasil kombinasi nama itu dengan nama malaikat Uriel. Uriel adalah 1 dari 4 malaikat agung. Uriel bermakna Tuhan cahayaku, di antara 3 yang lain, pemaknaannya gue rasa paling tepat untuk anak perempuan.

Tidak seperti gue atau saudara gue yang lain dengan suku kata nama begitu banyak, gue tahu kesulitannya hidup dengan itu. Gue mengusahakan nama kedua menjadi kombinasi lagi, kebetulan nama oma Dian sesuai dengan itu. Salah satu di jaman modern ini adalah anak Pangeran William, Putri Diana. Nama Charlotte awam dipakai menjadi nama - nama keluarga kerajaan.

Kedua format itu sebetulnya ingin gue maknai menjadi doa untuk anak - anak gue. Messenger of God, the glory of human. Begitu lah gue ingin kehidupan anak - anak gue kelak.

Saturday, March 16, 2024

Menulis

Di antara sedikitnya rutinitas yang gue lakukan konsisten tahunan, menulis adalah kegiatan di antaranya. Menulis tidak hanya mencatat pemikiran gue sekarang, gue juga belajar menuangkan rasa syukur gue. Menulis bukan saja menjadi hobi namun refleksi hati dan pikiran gue.

Iya kesibukkan memang menyita pikiran gue untuk menulis, banyak momen yang sebetulnya terlewat untuk didokumentasikan tapi tak apalah, dari pada harus berhenti dan kehilangan momen lainnya di masa depan.

Gue baru saja membaca beberapa status baik instagram atau pun facebook, gue memang masih belajar Deutsch, maka itu gue berusaha menulis walaupun ternyata banyak gue temui banyak kesalahan. Begitu lah suka cita dalam menulis, setiap kesalahan, kecacatan kata dan gramatika biar menjadi relik proses pembelajaran. Biarlah terukir menjadi sebuah kisah.

Gue senang menulis, sebuah kegiatan yang masih mau gue lakukan mungkin sampai gue tua. Kerinduan gue sekarang adalah memperbaiki Deutsch gue lalu menyelesaikan studi master gue. Bukan untuk kebanggaan, seperti skripsi dulu, proses menyusun tulisan ilmiah menjadi rasa tersendiri bagi gue.

Kesenangan menuangkan isi pikiran gue dalam proyek terstruktur, dipresentasikan dan diperdebatkan adalah betul mengasyikkan. Perdebatan ilmiah tidak hanya membangun juga menyempurnakan alur berpikir gue dan sensasi untuk menulis kain menjadi jadi.

Kapan? Kapan ya gue bisa begitu. Gue sangat menantikan hari itu, gue gak mau berhenti, gue mau terus belajar, lalu menulis lagi.

Monday, July 1, 2019

27 Mei Lalu

Hai Sayangku,

Mungkin belum lama kita mengenal satu sama lain.
Mungkin masih banyak perkenalan2 akan karakter masing masing yang tanpa sengaja membuat kita saling menyakiti.
Mungkin kita masih saling meraba kebiasaan kebiasaan masing masing dengan tujuan menimbulkan adanya pengertian.
Kadang lucu hingga membuat kita tertawa, kadang sakit hingga membuat kita bersedih.
Namun aku tetap bersyukur.

Kehadiran kamu bukan suatu hal biasa bagiku.
Kamu yang dengan segala kesederhanaan dan juga dengan sejuta pengertian akan setiap kekuranganku
kamu yang menganggap indah akan hal memalukan yang selama ini aku tutup-tutupi
Kamu yang tegas dan berwibawa saat mengambil keputusan
Kamu yang lucu dan seringkali membuatku tertawa, bahkan saat kamu sedang tidak berada disisiku, kamu tetap membuatku tertawa ketika aku sedang mengingat kamu
Kamu yang membuatku selalu dan semakin jatuh cinta.

Terima kasih,
kamu ngga pernah tau apa yang sudah kamu perbuat dalam hidupku,
mungkin saat ini kita belum sampai ditempat yang dinamakan masa depan itu. Tapi satu hal yang aku alami ini membuat aku membuka pikiranku, yaitu harapan. Harapan akan masa depan. Karena hanya dengan kamu saja, aku berani membayangkan masa depanku, pernikahan, kehidupan keluarga, membahas anak, bahkan sampai membahas masa tua yang akan kita habiskan berdua. Indah banget sayang :") makasi udah kasi aku keberanian untuk memikirkan hal itu.
kamu selalu membuat aku merasa cantik, kamu membuat aku berpikir bahwa aku seberharga itu, kamu membuat aku merasa layak menjadi seorang wanita.
dan hal pekerjaan, kamu memang tidak membantuku secara langsung. Tapi taukah kamu, support kamu sangat amat berarti buat aku. Disaat aku merasa buruk dalam segala hal pekerjaan, perkataanmu seakan menyihir pikiranku dan membuatku percaya bahwa aku bisa. Hal ini ngga bisa dibeli dengan uang, sayang. Support seperti ini sangat mahal bagiku dan aku bisa memilikinya karena kamu.
Masih banyak lagi hal2 yang tanpa sadar kamu lakukan namun sangat berarti buat aku. Terima kasih banyak sayang.

Doaku,
Kamu selalu bahagia. Jangan pernah menyesali keadaan. Semua terjadi ngga ada yang kebetulan.
Setiap doa2mu yang tiap malam kamu ucapkan dengan tulus, Tuhan jawab diusia yang baru.
Kamu semakin sabar dan bijaksana, karir kamu diangkat Tuhan naik.
Kamu selalu sehat dan panjang umur. Ayo sayang, habiskan masa tuamu bersama aku karena aku bersedia nemenin kamu sampai pada akhirnya :)
Kuat kuat ya sayang, menghadapi aku, menghadapi hidup. Aku tau kamu orang yang kuat, setiap rintangan2 dihadapan kamu nanti aku mohon, lewatilah sambil menggenggam tanganku, selalu andalkan Tuhan Yesus.
Satu hal, Tuhan Yesus sayang kamu, setiap kamu bersedih Dia juga bersedih, ketika kamu senang Dia juga senang.

Sekali lagi, selamat ulang tahun kesayangan aku.
Semoga surprise kecil2an ini bisa menjadi salah satu moment indah di hidup kamu hihi ^^

Aku mengasihi kamu, Siby ♡

Thursday, February 7, 2019

Surat Untuk Abe

Dear Abe, hari ini adalah hari yang sangat spesial buat aku. Untuk pertama kali merayakan hari spesial bagi wanita yang begitu hebat di hidup aku. Sebelumnya cuma satu wanita yang aku temui sepanjang hidup aku, wanita pintar dan pekerja keras, Oma aku. Kehebatan tersebut tidak semata - mata menjadikannya wanita yang pongah melainkan pribadi yang melayani keluarga dan Tuhannya.
~
Luar biasa Oma menginspirasi hidup aku, kepergiannya benar - benar memukul aku hingga meninggalkan pelajaran yang mengakar di hidup aku. Yup, tabu aku pikir untuk menemui wanita seperti Oma. Tidak secuil pun terlintas di akal aku untuk mencari sosok pasangan seperti Oma, semacam sedang mengada - ada walaupun lucunya Tuhan memang senang merusak dogma manusia, kehadiran kamu seperti tamparan Tuhan karena membatasi kemampuan-Nya. Bahwa kehadiran kamu begitu berarti di hidup aku dan sungguh besar kasih Tuhan kepada aku, tidak dibiarkan-Nya aku habiskan hidup tanpa kasih yang pernah Tuhan berikan lewat Oma.
~
Dia bawa kamu ke hidup aku. Seorang wanita hebat, kecerdasan kamu membawa kamu begitu leluasa menangani banyak persoalan. Keras berusaha mempertanggungjawabkan kewajiban kamu. Hidup memang tidak selalu yang seperti kamu inginkan, ketidakpastian juga sering kali menggoyah keyakinan kamu namun kamu tidak bersungut - sungut menjalaninya. Pun lagi - lagi seperti tidak cukup kamu membuat aku kagum, sebegitunya kamu melayani keluarga dan Tuhan kamu.

Selamat Ulang Tahun 
Dian Purwanasari Albertina Santoso!!

Izinkan aku menemani kamu menikmati perayaan ulang tahun kamu lainnya hingga yang terakhir, bersama sampai tidak ada lagi yang dirayakan kecuali kesetiaan kita satu sama lain dan begitu pun bersama Tuhan. Berbahagialah hidup mu, diberkati seperti yang sudah - sudah. Namun jangan lupa bertumbuh!! Sebab Tuhan sudah menyiapkan berkat yang begitu besar dan banyak lainnya dari apa yang mampu kamu nikmati hari ini! Dan terima kasih sudah menerima aku menikmati itu bersama kamu.

Thursday, May 24, 2018

Cutrip : Catatan Trip Cuti 2018 IV

Tidak terasa akhirnya gue bisa menuliskan lanjutan keempat ini, tidak begitu banyak waktu luang yang gue miliki. Ini bukan kesombongan, tapi gue pernah baca kutipan yang cukup menarik. Lo tau, sepeda harus tetap dikayuh dan bergerak agar tetap stabil. Begitu pun hidup, getting busy of something! Perjalanan gue dilanjut malam itu, ketika gue berpisah dengan teman - teman gue. Sambil menunggu sendiri, gue mulai mengurusi keperluan next trip gue, gue memesan hotel menggunakan aplikasi lalu 30 menit sebelum kereta tiba gue mulai masuk ke stasiun, bersiap diri mengawasi barang bawaan gue. Gue termasuk ceroboh, suka melupakan hal - hal kecil ketika sedang berurusan dengan kerumitan yang besar. Begitu lah gue suka menata hal kecil menjadi mudah gue tangani dengan handy.

Gue naik lalu langsung cari posisi duduk, perjalanan malam itu tidak begitu lama. Menuju Bali, gue mengambil rute melalui Surabaya dulu. Terima kasih Bang Ken atas bantuan konsultasi & menalangi pembelian tiket menggunakan akunnya. Jadi untuk menghindari keburu - buruan dan risiko kereta telat jadi gue ambil jarak keberangkatan antara kereta satu & kereta lainnya yang cukup jauh, setidaknya 2 jam jarak keberangkatan. Malam itu gue gak tidur terlalu pulas, gue lupa kereta itu mengarah kemana tapi kebetulan kereta itu lewat stasiun yang gue tuju yaitu Surabaya Gubeng. Begitu naik sih gue usahakan istirahat karena kereta yang gue naiki akan tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya pada pukul 1.35 dan akan gue lanjut ke Stasiun Banyuwangi Baru pada sekitar pukul 4.30. Selisih 3 jam kenyatannya, tapi tidak apa.


Hari Keempat : Getting Lost

Perjalanan tidak begitu lama jadi gue tidak membeli makan malam, gue punya pia yang tadi gue beli sebagai bekal. Bayu merekomendasikan sebuah angkringan dekat Stasiun Gubeng yang buka 24 jam, jadi gue pikir gue akan kesana saja nanti. Sampai akhirnya gue tiba, malam itu penumpang lain turunnya ada yang berpencar, ada cowo yang bertanya ke petugas stasiun dimana pintu Stasiun Gubeng Baru dan petugas pun mengarahkan ke arah yang berlawanan dari kebanyakan rombongan penumpang yang turun. Gue tidak memerdulikannya saat itu walaupun nantinya gue sesali. Setau gue kereta Jawa biasanya memiliki satu pintu keluar, jadi gue ikuti kemana orang - orang pergi saja.

Keluar gue langsung mencari angkringan rekomendasi Bayu, di daerah ojol cukup dibenci oleh ojek pangkalan. Sebenarnya dimana pun begitu sih, hanya saja lebih kontras di daerah. Setiap keluar stasiun ojek pangkalan menanyai tujuan gue, gue mau membuka gadget pun jadi segan, takut dicurigai sedang memesan ojol dan keluar omongan tidak enak dari ojek pangkalan. Padahal gue sedang mencari lokasi angkringan. Bolak - balik tidak ketemu, gue pasrah. Semakin bingung saat melihat pintu masuk stasiun sudah digembok tanpa ada petugas standby. Nanti masuknya gimana? Sampai akhirnya gue sadar, pintu keluar yang gue pakai tadi adalah Stasiun Gubeng Lama sementara check in ada di Stasiun Gubeng Baru.

Semakin menjadi, gue sadar kenapa gue tidak menemukan angkringan dari tadi. Gue salah pintu keluar. Sial! Waktu keluar tadi gue ke arah kiri dan gue tahu tidak ada jalur memutar ke stasiun seberang, gue ke arah kanan pintu keluar dan menemukan hal yang sama. Usaha pencarian gue sudahi, istirahat ke tukang nasi goreng yang gue temui malam itu lalu memesan. Sambil bertanya memastikan mengenai dugaan gue yang ternyata benar. Menunggu pesanan nasi goreng dibuat, gue cek google map. Jauh. Gitu aja. Gue putuskan pesan ojol sesudah makan untuk memutar. Sangat dekat memang jika menggunakan motor. Sambil menunggu ojol datang, gue menyelesaikan pembayaran. Ketika Mas Ojol datang, dia tanpa atribut ojol. Semakin yakin atas perang dingin antar ojol & opang. Setibanya gue di Stasiun Gubeng Baru, gue langsung mencetak tiket dan untungnya minimarket dibuka 24 jam.

Setelah itu gue cari tempat check in, ternyata disegel, tidak bisa masuk. Gue berusaha mencari security yang malam itu bertugas. Gue yakin betul pasti ada yang bertugas, dini hari itu ada dua kereta yang berhenti di stasiun setidaknya yang gue naiki tadi & akan gue naiki nanti, jadi tidak mungkin tidak ada security bertugas. Cukup mudah menemukannya, stasiun bukan lah bangunan yang rumit. Security sedang bermain game online bersama penjaga minimarket yang tidak sedang bertugas. Ketika gue konfirmasi kenapa aksesnya ditutup, ternyata memang sengaja begitu sampai nanti dibuka lagi ketika kereta selanjutnya yang berhenti tiba. Which is kereta yang akan gue naiki dan itu sekitar 3 jam lagi, kurang lebih. Niatan istirahat sambil menunggu kereta batal, gue harus terjaga sampai kereta yang akan gue naiki tiba.

Kebetulan disitu ada kursi menunggu yang cukup ramai, gue duduk untuk istirahat walaupun sebenarnya sulit. Entah itu musibah atau bencana, disitu banyak ibu - ibu membawa bayi & balita beristirahat dan anak - anak mereka cukup berisik. Kondisi yang tidak nyaman membuat anak - anak tidak bisa istirahat dan cenderung menangis. Fine. Berusaha mengabaikan, gue internetan berbekal baterai yang terisi penuh sewaktu menunggu di Stasiun Lempuyangan, Jogja. Sesekali berusaha memejamkan mata, setidaknya berusaha istirahat tanpa terlelap. Sampai akhirnya hampir tiba waktu kedatangan kereta yang akan gue naiki, security mulai bertugas di tempat check in. Gue langsung bergegas ke dalam, melalui pemeriksaan lalu ke toilet. Setelah itu kembali lagi ke security menanyakan peron mana gue naik.

Gue menunggu di peron yang diinfokan, ternyata orang - orang yang menunggu di luar bersama tadi menaiki kereta yang sama. Sepertinya subuh itu memang cuma kereta yang gue naiki yang akan berhenti. Kereta pun tiba, sambil menunggu berhenti dengan baik gue mencari gerbong gue. Kebetulan posisi gerbongnya tidak terlalu jauh dari tempat gue menunggu. Keretanya masih kosong, gue tidak terlalu peduli sih. Simpan tas di atas, pasang charger ke gadget dan gue langsung tidur.

Terbangun beberapa kali untuk minum dan melihat jam, kali ini gue bisa tertidur dengan pulas walaupun dengan kereta ekonomi. Kelelahan membantu gue untuk itu, hingga siang sekitar jam 11 an gue benar - benar terbangun. Aneh memang, sepanjang perjalanan beberapa kali gue terbangun dengan teman sebangku yang berganti - ganti, bahkan di penghujung perjalanan.  Ada seorang perempuan ditawari ibu yang duduk di seberang gue untuk duduk di sebelahnya, perempuan itu tidak dapat duduk karena tempatnya diisi orang lain. Ibu yang menawari pun mengalami hal yang sama jadi dia hanya mencari kursi kosong. Gue ke toilet lalu kembali. Nomor gerbong selalu terpasang di ujung dekat pintu keluar, di setiap sisi. Walaupun dalam kelelahan tadi pagi, gue sadar betul soal gerbong yang gue pilih sudah sesuai dengan tiket gue, tapi ketika gue ke toilet tadi gue melihat perbedaan dengan yang seharusnya. Gue curiga gue salah gerbong! Tapi apa benar!? Gue jadi curiga sebenarnya gue yang ambil tempat ibu tadi.

Selesai dari toilet ibu tadi sudah duduk di sebelah tempat gue duduk, lalu gue konfirmasi ke ibu tadi, ternyata pun dia memang tidak duduk disitu. Tapi karena gue konfirmasi, tempat gue diambil dan gue dipersilakan duduk di baris sebelah. Lah!? Posisi gue memang enak, tepat di sebelah jendela, gue udah tidur berjam - jam dengan posisi bersandar di jendela. Gue mengalah, biar ibu tersebut bisa istirahat karena kebetulan dia juga bersama suaminya. Baris itu memang cuma muat berdua, posisi gue diambil lalu dia mengundang suaminya. Akhirnya gue duduk pas di sebelah lorong, sambil menunggu perjalanan gue internetan. Walau akhirnya mengantuk, gue duduk tegap lalu menundukkan kepala. Semakin pulas posisi begitu membuat gue terhuyung hampir jatuh, tidak nyaman. Gue putuskan untuk jalan - jalan saja, sambil berusaha mencari dimana seharusnya posisi gue duduk. Ternyata lebih senggang, maka gue putuskan untuk duduk disitu sambil berpikir positif barang gue aman gue tinggal di tempat gue tadi.

Skip skip, akhirnya sampai di Stasiun Banyuwangi Baru. Gue bergegas ambil barang bawaan gue yang berada di gerbong tadi. Gue hanya tau bahwa dermaga sangat dekat dengan stasiun, pilihannya simpel. Ada bis yang langsung ke Denpasar dari Banyuwangi, kita bisa naik langsung (harga tiket termasuk ferry) atau kita bisa naik ferry dulu baru nanti cari bis nya di dalam yang berarti tiket ferry nya kita tanggung sendiri. Gue belum mengambil keputusan, sekeluarnya dari stasiun seperti biasa gue mengikuti mayoritas orang mengarah. Terutama bule, gue tau mereka pasti ke Bali. Sekeluarnya ke jalan utama sudah ada bis yang menawarkan ke Denpasar, kadang calo suka memainkan harga. Dia memaksa kita naik dulu, gue kurang suka sebenarnya tapi gue ikuti dulu. Sesampainya di dalam bis gue langsung tembak berapa harganya, gue menjaga diri agar tidak dibohongi. Saat ditanya pun jawabannya bergumam, entah 60 atau 80 ribu rupiah. Gue tegaskan kembali, "60 ribu Pak!?", diiyakan. Bagus. Setelah gue duduk dengan tenang, walaupun cemas juga. Berdasarkan review yang gue baca, lebih baik kita mencari bis di ferry karena pasti sudah jalan, sementara posisi gue masih ngetem sampe waktu yang tidak bisa ditentukan.
Harbour Life

Perasaan tidak enak semakin menjadi, penumpang yang naik tidak begitu banyak. Jika menunggu penuh maka bisa sore gue mulai berangkat. Tapi akhirnya perasaan tidak enak itu hilang, bis tidak menunggu penuh. Sekitar 3/4 jam ngetem, bis berangkat ke dalam ferry. Penumpang dipersilakan turun jika ingin menikmati pemandangan selat.

Tentu gue tidak menyia - nyiakan kesempatan, gue turun lalu mencari tempat untuk menikmati pemandangan sambil memfoto pemandangan. Sayang sekali cuma bisa diambil menggunakan kamera gadget. Penyebrangan antar dermaga tidak begitu lama, tidak sampai 1 jam jika gue tidak salah ingat. Setelah sampai Dermaga Gilimanuk kita harus turun, melapor ke petugas. Dampak serangan bom Bali dulu sepertinya, KTP diperiksa. Jika sudah boleh naik ke bis kembali melanjutkan perjalanan ke Terminal Mengwi, Badung. Perjalanan cukup lama jika dihitung dari Banyuwangi, sekitar 4 jam. Tarif 60 ribu pastinya sangat murah dibanding Jakarta - Bandung yang bahkan dengan durasi lebih sebentar.

Katanya dulu bisa langsung ke Terminal Denpasar, tapi karena ada perubahan kebijakan oleh pemerintah Bali maka dari Banyuwangi bis hanya akan stop di Terminal Mengwi. Sambil berjalan kebingungan, banyak calo, tendensi tinggi terhadap ojol dan wilayah yang bukan tengah kota maka gue cuma celingak - celinguk mencari jalan ke Denpasar di sore menjelang malam itu. Seperti biasa, mencari orang yang kemungkinan searah. Ada bule dan guide nya yang tadi gue temui di ferry, bule pasti pergi ke selatan Bali. Setidaknya itu yang ada di benak gue saat itu, mereka naik bis kota. Kernet berteriak, "Denpasar, Denpasar!". Well, nice. :)

Menikmati harum Bali yang khas, gue menikmati perjalanan itu. Waktu kecil dulu gue pernah tinggal di Bali, setahun setidaknya. Harum sesajen dan minyak babi tertanam baik di memori gue. Bule dan guide nya turun sebelum Denpasar, ah tidak apa.. Gue yakin populasi ojol di Denpasar lebih tinggi dari pada Badung, jarak ke hotel gue di Kuta pun jauh lebih dekat. Jadi tidak perlu khawatir memilih angkutan yang tepat. Sesampainya gue segera menjauh agar aman memesan ojol sambil diteriaki penawaran ojek dari opang, tapi lagi - lagi gue ke arah yang salah haha. Sepanjang jalan di depan Terminal Denpasar haram hukumnya untuk ojol mengangkut penumpang. Akhirnya harus kembali ke terminal ke arah satunya (sambil diteriaki lagi) menuju persimpangan terdekat dimana ojol yang gue pesan sudah menunggu di persimpangan. Kanda sudah lelah dinda.

Gue tidak langsung ke hotel, melainkan ke tempat makan. Mencari restoran sate babi yang recommended menggunakan google map. Ternyata tidak semulus saat di Jogja, restoran tersebut tidak ada. Entah salah google atau gadget pengguna saat menentukan koordinat lokasi restoran. Untung Abang Ojolnya baik, gue diantar ke food court terdekat. Ini Bali, tidak sulit mencari sate babi. Ada saja yang menjual menu itu. Setelah makan gue mencari minimarket untuk membeli minum & sedikit snack, baru setelah itu memesan ojol lagi untuk mengantar ke hotel. Mengakhiri petualangan sesat hari itu....




Saturday, April 14, 2018

Cutrip : Catatan Trip Cuti 2018 III

Yup, perjalanan masih lanjut. Pencahayaan malam itu benar - benar mengandalkan cahaya lampu mobil. Kondisi jalanan juga tidak selalu baik, ada saja lubang yang cukup besar bahkan bagi mobil yang menghambat perjalanan kami. Gue tidak tahu betul apakah kami pulang menggunakan jalur yang sama dengan jalur berangkat, sepanjang perjalanan gue hanya tertidur dan sesekali terbangun akibat rusaknya jalan tadi. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah minimarket, supirnya yang adalah saudara Bang Dicky, butuh istirahat dan kami pun butuh minum. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi.

Hingga akhirnya kami melalui tikungan tajam yang gue ingat itu adalah jalur Mas Supir tadi pagi balapan dengan mobil bak. Tidak jauh dari situ, kami mendapati pemandangan yang bagus. Tikungan tajam menanjak itu, pada malam menyajikan hamparan cahaya lampu kota yang indah. Itu memang tanjakan bukit. Kami mampir sejenak untuk berfoto dan beristirahat lagi. Karena cahaya yang minim, segala usaha dilakukan untuk mendapat foto dengan hasil yang baik. Gue menyalakan senter dari gadget gue & Bayu mengambil foto menggunakan gadget nya, dibanding menggunakan blitz bawaan kamera.. entah kenapa cara itu memberikan hasil lebih baik.

Pemandangan Jogja malam dari atas bukit.

Gue yang memulai cara itu, menggunakan senter dari gadget sebagai lighting tambahan, untuk mengambil gambar Hendra & Dwi. Bergantian Dwi pun membantu memberikan lighting saat Adit, Gue, Hendra & Bayu foto bersama. Kami mengobrol sedikit hingga akhirnya melanjutkan perjalanan ke Jogja. Waktu sudah memasuki jam makan malam dan kami mulai mencari - cari tempat recommended untuk itu. Bayu punya satu tempat yang menarik, bukan makanan khas Jogja (lo tau kan gue susah makan makanan manis), tapi yang ini sepertinya menarik. Mie ayam pinggir jalan yang katanya enak, punya level kepedasan yang bisa dipesan. Namanya Mie Ayam Kamehame.

Suasana di Mie Kamehame
Sesuai namanya, mie ayam ini memiliki tema Dragon Ball, begitulah mereka menamai level kepedasannya. Level Kamehame, Saiya, dsb. Sebelumnya kami juga meremehkan pilihan Bayu tapi maaf ya Bay, pilihan lo tidak mengecewakan. Gue suka pedas namun bukan penggila, semua makanan yang gue makan akan gue usahakan ada cabainya. Kali ini gue pesan Level Kamehame, benar - benar tidak mengecewakan, rasanya enak, pedasnya pas. Gue rasa pun mienya dibuat sendiri. Tempatnya juga ala angkringan Jogja, di pinggir jalan beralaskan tikar. Sambil makan kami cari hotel untuk tempat menginap. Berbenturan antara kepentingan harga & jumlah kami, Bayu memilih untuk menginap di tempat temannya dari pada harus menambah 1 kamar lagi. Begitu pun malam itu menjadi perpisahan antara kami dan Bayu. Begitu sampai di hotel, Ibam menyelesaikan pembayaran terhadap mobil lalu kami istirahat. Bayu cuma istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat temannya.

Hari Ketiga : Adventure Time

Pagi - pagi kami bangun, tidak begitu pagi juga sih (terutama gue). Ibam baru saja dari luar tapi dia baru saja tersesat, memasuki kamar orang lain. Setelah itu gue juga keluar, karena Nyonya Besar minta dihubungi dan teman - teman gue brengsek klo gue sedang teleponan bersama Nyonya. Seorang cleaning service bilang ke gue bahwa gue dicari seorang teman kami yang lain. Gue tahu yang dimaksud itu adalah Hendra, dia sedang sarapan bersama Dwi. Gue coba mencari mereka dan sial, apa yang terjadi ke Ibam juga terjadi ke gue... ketakutan mengalami salah kamar seperti Ibam, gue pun cuma mondar - mandir meyakinkan diri gue di kamar yang mana. Sharing room membuat gue tidak memerdulikan nomor kamar gue, pikiran gue sebelumnya gue hanya mengikuti teman saja tanpa peduli nomor kamar tapi malah jadi kesulitan bagi gue sendiri.

Berusaha menelepon Adit, berpura - pura memanggil karena gue tahu klo gue bilang lupa pasti mereka akan meledek dan mempersulit keadaan. Kalian memang pria brengsek! Sampai akhirnya gue beranikan diri membuka kamar yang gue yakini itu kamar gue. Eurekaa!! Gue tanya Adit kenapa telepon gue tidak diangkat, lo tau dia jawab apa? Dia tahu pasti gue lupa dimana kamarnya, jadi telepon gue diabaikan. Gue bilang juga apa!?? Sudah kembali ke kamar, kami mengobrol sampai akhirnya Hendra menghampiri kami ke kamar, setelah itu kami pergi sarapan. Gue dan Adit sarapan bubur, Ibam yang generasi milenial membeli sarapan di minimarket. Next. Kami kembali ke hotel & Hendra menawarkan trip ke bukit berdasarkan review yang dia lihat dari youtube. Hendra pun sudah mencari penyewaan motor. Sungguh teman yang bisa diandalkan.

Perjalanan menuju Bukit Mojo Gumelem
Gue pun pergi mandi lalu packing dan tidak lama pun motor sudah datang, motor plat putih. Lagi - lagi gue berdebat dengan Adit. Gue heran kenapa kendaraan dinas pemerintah malah disewakan? Ternyata lagi - lagi gue juga salah. Itu adalah kendaraan yang belum ada nomor polisi, jadi diterbitkan lah nomor plat putih untuk sementara menunggu itu. Setelah bersiap kami check out lalu memulai perjalanan bermodalkan google map. Persiapan gue paling baik di antara yang lain dalam berkendara. Iya jelas, karena trip gue baru dimulai sekarang sementara mereka semua hari ini kembali ke Jakarta. Jalurnya tidak begitu sulit di kotanya, baik kondisi jalan maupun rute. Bahkan sampai di bukit, kecuali jalannya memburuk semakin kami memasuki pedalaman.

Di bukit tersebut jalurnya mudah, karena walaupun di perbukitan sekalipun, rute - rutenya jelas untuk setiap destinasi - destinasi wisata. Setidaknya dari yang sudah gue lewati dan arah tujuan gue. Adit yang mendapat jatah kendaraan dengan kondisi rem yang kurang baik harus sesekali tertinggal akibat jalur perbukitan yang naik - turun, belum lagi kewaspadaan terhadap kendaraan mobil atau truk yang turun dari atas. Kesulitan tersebut, bagaimanapun terbayar. Akhirnya kami sampai di lokasi, kami parkir di tempat yang disediakan. Disitu sudah ada 2 ibu - ibu, sepertinya mereka yang menjaga parkiran tersebut walaupun hanya dengan sederhana, yaitu ditunggui. Tanpa karcis. Begitu murah hingga pembayarannya ditalangi oleh Dwi. Terima kasih ya Dwi. Barang pun bisa ditinggal dengan aman tanpa extra charge. Wonderful Indonesia bukan?

Sepertinya tempat ini adalah pengembangan dari pemerintah setempat untuk menunjang ekonomi warganya melalui pariwisata. Tidak begitu komersil seperti tempat wisata alam biasanya, cukup terbuka dan bebas masuk. Mungkin karena sepi juga. Ada spot - spot yang disediakan demi menunjang foto - foto ala jaman sekarang, spot tersebut seperti dilabeli harga jika ingin berfoto disitu. Semakin yakin, karena sepi, maka label harga itu cuma pajangan karena tidak ada yang menjaga. Masing - masing kami langsung berpisah mencari lokasi berfoto yang menarik, gratisan cuy!!
Salah satu spot berfoto di Bukit Mojo Gumelem
Pemandangannya bukit yang indah namun sedikit tertanggu oleh teriknya matahari menjelang tengah hari. Tidak begitu lama kami berfoto. Kami segera mencari tempat berteduh, berhubung saat itu juga menjelang makan siang maka kami berteduh di warung makan. Kelapa utuh langsung menjadi pilihan. Kelapa yang diminum langsung saat dibuka menghilangkan haus kami. kami lanjut mengobrol sebentar sambil menunggu makanan, selesai makan Hendra & Dwi melanjutkan sesi foto mereka. Gue & Adit tetap berteduh sementara Ibam pergi mencari tempat sholat. Sekembalinya mereka dari urusan masing - masing, kami kembali merencanakan perjalanan selanjutnya. Hendra menawarkan tujuan baru, hutan pinus, untuk kami kunjungi. Hari yang panas membuat yang lainnya, termasuk gue enggan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah perbukitan. Kami memilih ke kota saja, di samping jadwal kereta Adit & Ibam yang tidak memungkinkan untuk wisata di luar kota Jogja, Hendra pun memilih berpisah. Hendra & Dwi mau berwisata ke Candi Borobudur dan gue, Ibam & Adit pergi ke Jogja mencari es krim gelatto. Yup bermodalkan teknologi google map lagi, walaupun salah namun untungnya kami melewati cafe es krim yang dituju. Sambil beristirahat, Ibam menghubungi temannya yang sedang menjalani studi di Jogja untuk bertemu di cafe es krim itu.

Berbincang kami masing - masing, Ibam dengan temannya & Gue bersama Adit sambil menunggu sore. Sesudah itu kami berpisah dengan teman Ibam, mengantar Adit mencari oleh - oleh. Sempat salah jalan, akibat mengikuti google map secara pasrah, kami dibawa menyebrangi jalan Malioboro yang kebetulan sedang ada pawai. Kami menunggu. Atas desakan antrian di belakang kami pun berusaha menerobos, ternyata kendaraan di depan kami bukan sedang menunggu pawai tapi malah sedang memakirkan motornya di tengah jalan sambil menonton pawai yang bahkan sudah berlalu. Begitu lah kesadaran Indonesia yang minim dalam berkendara. Akhirnya kami berhasil menerobos keramaian dari sisa pawai melanjutkan perjalanan ke pia kesukaan gue di Jogja, namanya Pia Kencana. LO HARUS COBA! Gue tau pia ini dari Mba Ninda, sewaktu kuliah dia pernah memberikan ini sebagai oleh - oleh untuk kami dan sewaktu kami semua pergi ke Jogja dulu, akhirnya gue paksakan teman - teman yang lain kesini demi pia itu.

Sulit memang mencarinya, karena pia ini berada pada suatu restoran bukan kios tersendiri. Mungkin karena dari grup perusahaan yang sama. Adit sebenarnya sudah menyadari dari hotel sewaktu kami keluar sarapan, karena di dekat hotel kami menginap tadi, seingat Adit ada restoran dengan nama yang sama. Tanpa berdebat panjang tentang itu, gue pasrah saja karena toh sudah berlalu juga. Gue cuma beli 1 kotak pia, bukan sebagai oleh - oleh tapi sebagai bekal melanjutkan perjalanan. Adit membeli beberapa kotak untuk oleh - oleh, sementara Ibam? Hmm Ibam hanya membawa dodol snack pernikahan Bang Dicky yang disajikan ke kami dan tersisa banyak sewaktu di Pacitan.

Hari sudah menjelang sore, Ibam & Adit akan berangkat pada 18.30. Kami menghubungi Hendra, berkoordinasi mekanisme pengembalian kendaraan. KTP kami memang ditahan oleh pengelola penyewa, syarat standar penyewaan kendaraan. Akibat persaingan bisnis, sewa kendaraan kini bisa diantar baik peminjaman maupun pengembalian dengan fleksibel, apalagi di tempat - tempat umum seperti stasiun. Hendra memberikan kami kontak penyewanya untuk membuat janji pengembalian, kami menghubungi mas nya. Tempat pengembalian ditentukan, Stasiun Lempuyangan, kami juga melanjutkan perjalanan disitu. Adit & Ibam ke Jakarta sementara gue ke Surabaya. Begitu lah kami ke Stasiun Lempuyangan, bertukar kunci motor & KTP dengan Mas Penyewanya lalu masuk ke stasiun untuk beristirahat.

Gue ingat bahwa Bayu juga seharusnya pulang sore itu, gue minta Adit untuk menghubungi Bayu. Sayangnya ternyata Bayu pulang dari Stasiun Jogjakarta. Usaha berkumpul lagi sebelum pulang gagal. Atas kemajuan layanan KAI saat ini, sambil menunggu kami charge gadget. Kereta gue berangkat 1 jam lebih lama dari Ibam & Adit dan berpisahlah gue dari mereka menuju tujuan masing - masing.

Monday, March 26, 2018

Cutrip : Catatan Trip Cuti 2018 II

D-Day : Child in Law Downloading alias Ngunduh Mantu!

Well ini lanjutan artikel sebelumnya [Cutrip : Catatan Trip Cuti 2018 I], pada hari kedua juga. Sorry gue perbarui kontennya lumayan lama, ada kesibukkan di kehidupan riil yang bikin sulit curi waktunya. Next. Setelah istirahat, satu per satu kita mandi. Gue mengalah sama yang mau Jumatan dulu, di samping gue juga masih males. Pada akhirnya badan menempel kasur, lumayan nyaman buat rebahin badan. Beberapa mengeluh karena sinyal yang sulit, karena posisi rumah dari jalan utama lumayan jauh, jadi ya sementara gue nikmati aja kehidupan desa.. duileh~~. Cukup istirahat, gue beberes sedikit, siapin baju buat acara Bang Dicky lalu mandi. Ternyata keluarga Bang Dicky sudah suguhin makanan, bahkan untuk kita sendiri disajiin porsi kyak buat keluarga. Gue nunggu yang lain selesai Jumatan supaya kita makan bareng.

Awalnya sih gue pesimis, maaf ya Bang Dicky hehe. Tumbuh di keluarga yang suka makanan pedas, gue gak cocok sama makanan ala Jawa. Tapi enggak, sumpah makanannya pedas. Sangat berlawanan dengan stereotype kuliner Jawa dan terima kasih banget Bang Dicky. Makanannya enak semua, sederhana -tapi enak. Selesai Jumatan dan makan, kita semua siap - siap ke acara Bang Dicky. Yup! Pake tradisi ala desa klo ada acara di kampung, pakai mobil bak, naik dan berangkat bareng.

Di Atas Mobil Bak ~ Lelaki di Antara Wanita
Di mobil sudah ada seserahan buat acara, kita naik sesudahnya sementara Dwi berpisah karena mungkin untuk menjaga kenyamanan dia juga sebagai satu - satunya cewe. Gue pikir sudah begitu aja, tapi di tengah jalan setiap tetangga mulai naik dan semakin penuh. Di jalan yang bukan aspal dan berbukit, gue harus berdiri berhadapan seserahan Bang Dicky sambil digandolin ibu - ibu tetangga. Sumpah pegel. Ditambah ibu - ibu juga kepo tanya - tanya tentang kita pakai Bahasa Jawa. Selesai lah, untung ada Bayu yang meladeni.

Begitu tiba kita disambut dengan dangdutan dari sound system dengan bass yang menggelegar. Dentuman bass nya langsung menggetarkan jiwa~~ tanpa koordinasi dan minimnya pemahaman tentang acara ini, lantas kita bengong. Akhirnya kita disuruh masuk, mungkin karena gak enak dilihat, prosesi masih berjalan sementara tamu di luar. Masuk dan kita berhadapan langsung dengan keluarga Mitha (istri Bang Dicky), kita menyalami satu per satu di barisan tersebut. Setelah itu kita ambil kursi paling depan, walau takut juga. Kita gak tau betul apa itu bebas untuk tamu atau reserved buat keluarga. Pokoknya duduk aja dulu biar gak kelihatan aneh cuma berdiri.

Sambil menunggu, kita disuguhi minuman dan beberapa snack. Karena baru makan, makanan cuma kita cicipi beberapa lalu diletakkan di meja. Begitulah terlihat tangan kita kosong oleh keluarga tuan rumah, maka ditawari lagi. Memang dasar watak orang Indonesia yang selalu segan / "gak enakkan" lantas kita terima lagi. Masih menunggu dengan kalimat pengantar Bahasa Jawa kuno atau klasik atau apalah itu sampai Adit pun yang orang Jawa gak paham. Perlahan kita tumbang. Nada Jawa, tembang sinden dan kalimat Jawa mengantar kita ke kondisi mengantuk sesudah semalam sebelumnya sulit tidur di kereta.

Bayu yang duduknya di belakang kita tertidur, sisanya mengantuk. Sungguh memalukan, akhirnya kita jadi buah bibir keluarga Mitha. Dwi yang sedikit mengerti Bahasa Jawa mendengar kita sedang diperbincangkan. Maaf ya Bang Dicky, kami cuma membawa aib. Akhirnya keluarga Bang Dicky datang, sip acara mulai. Rombongan datang membawa seserahan simbolik keperluan rumah tangga, gak lama ada sepupu Bang Dicky datang duduk di samping kita. Mengajak ngobrol sebagai tuan rumah di kampungnya. Orangnya ramah dan baik, doi polisi di Jakarta. Kita diajak cari - cari jodoh di kampungnya tapi sepanjang tadi yang gue lihat cuma anak kecil. Apa artinya ini? Artinya mungkin jodoh Ibam dan Adit masih jauh, sangking jauhnya mereka masih anak - anak. Sabar guys!

Sumringah Wajah Melepas Keperjakaan
Oia, rombongan datang bukan hanya bawa seserahan. Prosesi tersebut ada simbol tarik ulur antar keluarga, semacam adu - aduan dengan tari. Lumayan menghibur untuk membunuh kantuk. Skip skip.. akhirnya Bang Dicky datang, Man Of The Day. Bang Dicky secara agama dan hukum sudah sah menikah kemarin, tapi adat masih berjalan. Kata Ibam, dari kemarin Bang Dicky minta beliin CD (u know lah), sungguh pelepasan masa lajang yang luar biasa. Stok bisa sampai habis terpakai dalam kurang dari satu hari. Begitulah Bang Dicky berjalan di depan kita, berusaha menahan keseriusan dalam formalnya prosesi sakramen adat, namun hancur karena ledekan kita. "Segitunya apa sampe kolor abis!??", sindiran penuh iri dari jomblo.

Prosesi masih berlanjut, Bang Dicky sudah naik pelaminan bareng Mitha. Kita menunggu sesi untuk foto bersama dan menyelamati secara langsung. Sayang sesi tersebut berlangsung dengan cepat, karena acara formal masih berlanjut jadi kita gak sempat ambil foto pakai kamera pribadi tapi cuma pakai fotografer pernikahan. Lalu kita keluar dan mencoba merencanakan trip selanjutnya. Pacitan terkenal dengan pantainya yang bagus, kita berencana kesana. Lagi - lagi sayang, Kamis itu dianggap hari bagus oleh orang Jawa sehingga pada hari itu juga ada pernikahan lain di desa itu. Jadi keluarga dan tetangga Bang Dicky tidak sibuk dengan satu pernikahan saja.

Ramainya pernikahan yang dilangsungkan di hari itu menyebabkan sulitnya ketersediaan kendaraan yang bisa kita pinjam buat ke pantai. Ada pun yang menyewakan dengan harga yang kurang menarik. Dengan beberapa pertimbangan kita putuskan kembali ke Jogja, ada tawaran untuk mengantar kita dengan mobil pribadi yang disupiri saudara Bang Dicky. Setidaknya dengan harga yang cukup seimbang dibanding penawaran sebelumnya ke pantai.

Keputusan diambil begitu pula selesai acara Bang Dicky. Pulang lah kita duluan ke rumah Bang Dicky. Begitu sampai lalu istirahat sebentar dan kita ditawari makan oleh nenek Bang Dicky, padahal baru makan sebelumnya. Seperti biasa, karena segan kita tetap makan dengan porsi sedikit. Keluarga Bang Dicky begitu baik menyuguhi sampai kami segan menolak. Ternyata di sebelah rumah nenek Bang Dicky ada kandang ternak, dengan sedikit perdebatan dengan Adit tentang sapi atau banteng, akhirnya gue kalah. Gue gak tau tentang ternak sebelumnya dan atas semua informasi yang pernah gue dapat bahwa banteng selalu agresif. Tapi banteng itu begitu tenang seperti sapi dan siapa sih gue, cuma lihat hewan ternak setahun sekali pas lebaran haji. Nenek Bang Dicky mendesak kita agar masuk, menikmati suguhan makanan sebelumnya. Sedikit gelap karena sore sampai lampu dinyalakan.

Sebuah rumah joglo, luar biasa. Gue pernah lihat satu rumah joglo milik direksi gue waktu diundang makan bersama di rumahnya. Ada perbedaan tentu dari segi prestis, tapi yang ini otentik. Gue suka. Bagaimana seni dan adat selaras dan kuat dimakan zaman. Itu namanya komitmen pada kreatifitas dan warisan. Harganya mahal baik moral maupun nilai.

Keluarga Bang Dicky juga beberapa akhirnya menyusul pulang, kita izin untuk pamit. Keluarganya menyayangkan kunjungan kita yang sebentar, kami diminta untuk berkunjung lagi lain waktu dan kesempatan. Kami mengiyakan. Nenek Bang Dicky juga menyayangkan, tampak sedih di wajahnya. Dalam tua, kamu akan tahu arti keramaian keluarga. Ibu Bang Dicky akhirnya menghubungi Bang Dicky untuk menyalami kepulangan kami. Sekelompok teman dari jauh, demi hari penting. Lalu kita berbincang sedikit, sambil menunggu mobil yang kita sewa di waktu yang dijanjikan. Gue dan Adit berbicara yang tidak jelas seperti biasa, ditambah Ibam. Bayu dengan kamera handphone nya yang canggih melakukan photo shooting dengan model Hendra dan Dwi.

Sudah hampir menjelang malam, kita bersiap mandi lalu packing. Tidak lama Bang Dicky datang dari rumah Mitha. Akhirnya bisa berbincang lebih leluasa, sedikit mengobrol. Mengulang gaya bicara lama yang kita ulang selama 4 tahun berturut - turut walaupun dengan topik berbeda sampai mobil tiba. Keluarga berkumpul semua melepas kami, dengan sedikit wejangan agar berhati - hati dan salam untuk kembali. Kita pergi. Sore menjelang malam, di desa begitu gelap dan begitu pun sebenarnya gue berat dengan segala keramahan yang disuguhi keluarga Bang Dicky ditambah raut wajah sedih dari nenek Bang Dicky yang semakin menjadi. Malam kita lewati, ke Jogja kita kembali.

Sunday, March 25, 2018

Cutrip : Catatan Trip Cuti 2018 I

Ini adalah kali pertama gue backpacker an, sebenernya occasion ini bertujuan untuk menghadiri nikahan temen kampus gue, Bang Dicky, di daerah Pacitan. Jadi di awal emang niatnya ke Pacitan aja, cuma karena bulan April cuti gue kena renewal dimana akan menghanguskan cuti tahun sebelumnya dan masih sisa cukup banyak, maka gue putusin untuk ambil cuti panjang sekalian untuk bablasin ke Bali.

Persiapannya cukup galau, dimulai temen - temen yang banyak jadi pendaftar tapi minim yang jadi peserta a.k.a bilang mau dateng tapi batal, trip scheduling, cari penginapan dan tetek bengek standar liburan lainnya. Maklum karena masih newbie.

Hari pertama : "Ngopi dulu Lek"

Gue berangkat hari Kamis, malem.. Rencananya sih karena mau kejar jadwal ngunduh mantunya Bang Dicky di Jumat siang. Gue gak tau betul dengan siapa aja gue berangkat hari itu, karena yang batal benar - benar banyak. Jelasnya, gue berangkat dari kantor sama Adit. Adit samper ke kantor gue yang kebetulan udah pindah ke deket St. Gondangdia, cuma butuh maksimal 15 menit ke St. Senen klo malam.

Adit emang berangkat rada cepet, mengingat jarak rumahnya yang cukup jauh. Dia sampai kantor gue jam 20.30 an, apa daya karena gue masih meeting jadinya Adit dianggurin sampe jam 21 hehehe... sabar ya Dit. Jam 21.10 kami cuss ke St. Senen pakai ojol. Udah buru - buru tetap aja kami duluan yang sampai, jadwal berangkatnya emang jam 22.30 siih. Jadinya sambil nunggu kami belanja bekal dulu deh. Saat dikonfirmasi pada dimana, Bayu cuma ngeledek, "Ngopi dulu Lek". Well, buang waktu lagi gue sama Adit juga ngobrol dulu aja.

Mulai kumpul akhirnya ketauan yang fix siapa aja. Adit, Bayu, Hendra dan Dwi. Begitulah berurut sesuai yang gue temui duluan. Berangkat lah kami, sebenarnya Adit harusnya duduk terpisah sama kami karena dia telat beli tiket. Fortunately, karena 1 orang yang udah beli tiket sebelumnya batal tanpa refund jadi kursi dia yang gak dipakai diisi Adit.

Perjalanan cukup gak nyaman, seriusan. Lo tau kereta ekonomi gimana? Kursi tegak 90 derajat dan keras! Segala gaya dikeluarin cari posisi biar bisa istirahat tapi tetep aja gak bisa pules. Kami cuma tidur ala ayam, merem istirahat, disenggol juga bangun.. kecuali Bayu. Sebagai KA'ers Jawa sejati (no rasis masbro, kereta Jawa adalah istilah kereta yang ke Jawa... ya gitu) Bayu punya banyak jurus. Bolak balik, miring, lipat kaki, selonjoran sampe kakinya ditendang orang karena ngalingin jalan. Walaupun katanya dia gak bisa tidur, kami semua sepakat cuma dia yang pules.

Oia untuk ke Pacitan, kami mesti pakai travel lagi dari St. Lempuyangan, Jogja. Jogja - Pacitan jarak waktunya kira - kira 3 jam dan kendaraan umum gak sefleksibel Jakarta jadi cuma ada di waktu - waktu tertentu. By schedule, kami harusnya sampai jam 6.30, gue bilang ke Bayu gue ada kontak untuk travel jam 7 tapi Bayu gak mau ambil risiko mengingat kereta ekonomi ada risiko telat makanya dia udah book untuk travel jam 9 dengan DP. Ternyata kami malah sampai on time, sambil ngeledek Bayu kami cari tempat nunggu sesuai jadwal yang udah dia DP. "Ngopi dulu Lek".

Begitulah kami suka pakai kalimat ledekan berulang - ulang dalam occasion yang berbeda dan lalu kami benar - benar pesan kopi... well. Kopi pun datang, gak lama di pintu keluar St. Lempuyangan ada mobil travel ke Pacitan ngetem dengan posisi kosong. Sambil saling pandang kami bilang, "Ngopi dulu Lek". Kami memaknai keputusan yang gak sesuai dengan kenyataan, klo aja kami pesan travel sesuai jadwal kereta sampai lalu langsung berangkat tanpa jeda kami gak bisa ngopi dulu... sebuah usaha menghibur diri.

Hari kedua : Mas Supir

Di usia kami ini, jomblo bukan lagi gengsi. Standar bergengsi adalah klo kami bisa halalin anak gadis orang. Kami habisin waktu omongin perjuangan untuk mendapat standar gengsi itu, kyak teman - teman kami yang udah sukses duluan. Sedih. Oke next, akhirnya jam 9 dan gak lama Mas supir datang. Orangnya ramah, bantu taro tas di bagasi dan aktif komunikasi sama kami waktu mau jemput. Ternyata bareng kami ada 2 mba lagi, pertama udah naik duluan sebelum jemput kami, kedua adalah yang dijemput setelah kami. Setelah atur formasi duduk, kami ke jemput Mba kedua ini sebelum cuss ke Pacitan.

Kami jemput Mba kedua di Bandara Adi Sutjipto, Mba kedua ini bikin Mas supirnya KZL karena bilang ada di terminal B padahal di terminal A, sampai akhirnya ketemu Mba kedua lalu berangkatlah kami. Impresi gue ke Mas supir pun berubah ketika kami mulai masuk jalur luar kota. FYI, Jogja - Pacitan itu jalurnya berbukit dan belok - belok. Mas supir pun ngebut, gue jadi berasa di kartun Initial D. Serius lo mesti cari videonya di youtube biar merasakan sensasi yang sama kyak gue kemarin. Sepanjang ada motor diklaksonin biar dia aman nyalib, mobil apalagi. Tikungan disabet, jalanan bergelombang digas, cone road mau dihajar bareng sama motor dari lawan arah bahkan Mas supir balapan sama mobil bak di tikungan dan Bayu enak - enakan tidur!!

Singkat cerita Mas supir pun mampir ke sejenis rest area, Bayu, Hendra dan Dwi makan, gue sama Adit ngobrol aja.. gak tau ngobrolin apaan. Perjalanan lanjut dan gue pun juga tertidur hehe. Terima kasih buat Mas supir, sebelumnya gue pertanyakan Bayu kenapa dia ambil travel jam 9 karena mengingat durasinya mereka pasti kelewat Jumatan. Tapi berkat Mas supir, kami nempuh 1.5 jam perjalanan doang. Luar biasa bukan? Bisa ngopi dulu Lek.

Kami telepon Ibam salah satu teman kami yang udah berangkat beberapa hari sebelumnya untuk minta jemput, akhirnya dijemput sama Ibam dan beberapa saudara Bang Dicky. Ini salah satu fenomenanya, pas ke rumah Bang Dicky dari jalan utama ke depan gangnya itu dekat. Let's say 10 menit jalan kaki lah, tapi dari depan gang ke rumahnya itu butuh lebih. Gang dengan lebar segitu biasanya di Jakarta gak bakal jauh, tapi di Pacitan beda. Begitu sampai kami sowan ke orang - orang tua Bang Dicky, kami sowan sesuai yang dikenalin Ibam satu per satu. Ibam seketika seolah namanya ada di kartu keluarga Bang Dicky. Selesai sowan kami ke kamar yang disediain lalu istirahat.

Thursday, December 29, 2016

Resolusi 2017

Meine Deutschkurskarte für nächsten Ebene
Hari ini 28 Desember 2016, menyambut tahun yang baru yang sebentar lagi akan dimulai. Postingan ini tidak begitu berbeda dengan tulisan gue pada tahun lalu yang berjudul Selamat Datang 2016! Well ini tulisan gue setelah beberapa waktu yang cukup lama vacuum dari menulis akibat kesibukkan. Tahun ini benar - benar spesial dengan begitu banyak pergolakan pada awalnya, setelah tahun lalu harus jatuh sekarang perlahan semuanya menjadi cukup jelas untuk dijalani.

Ucapkan selamat datang pada orang baru di hidup lo! Yup mereka yang datang memberikan secercah pengembangan dari apa yang ada di diri lo sekarang. Bergaul dengan orang - orang baik dan menjadi baik pula. Bukankah begitu tujuan hidup kita? Belajar adalah nafas hidup, lingkungan lo memengaruhinya. Hidup di lingkungan buruk merusak kesehatan lo.

Okay cukup basa - basinya... Tahun depan adalah tahun besar Mann! Yup setelah tahun ini gue berhasil menyelesaikan pendidikan strata 1 gue dan melepas hal yang menghambat perkembangan diri, gue lagi bersiap untuk melanjutkan pendidikan gue ke jenjang yang lebih jauh. Maka itu di tahun depan gue akan mulai meriset kampus - kampus yang reliable dengan visi karir gue nanti untuk selanjutnya akan gue coba mencari beasiswa berkuliah disitu. Di tahun ini juga gue sudah memulai pendidikan Bahasa Jerman gue, Mein Deutsch ist nicht so gut und danach will ich im nächsten Jahr Deutsch lernen fortsetzen. Lalu di kuartal 4 tahun depan gue juga akan memerdalam Bahasa Inggris gue untuk mengambil sertifikasi TOEFL pada akhirnya.

Lot of things to do, eh!? Semua hal itu tidak semudah bagaimana gue menulisnya, ada banyak hal yang mesti ditata untuk menjaga semuanya tetap di dalam perencanaan. Seiring bertambahnya usia kita tidak dituntut oleh satu hal yang rutin pertanggungjawabannya seperti saat kecil dulu. Seperti gue beberapa bulan terakhir ini harus mengurus berbagai kesibukkan pada hari yang sama, pekerjaan, pendidikan, administrasi pendidikan, tulisan ilmiah dan banyak hal yang lainnya tanpa harus saling bersinggungan dan berkorban satu sama lain. Semua itu hanya bisa dikerjakan dengan tekad terhadap tujuan hidup gue. Sama halnya hidup lo. Hari ini 29 Desember 2016 pukul 00:06, waktu semakin berlalu.. yup ketahuilah gue menulis tulisan ini di dalam 2 hari karena waktu luang gue hanya di tengah malam untuk benar - benar berkonsentrasi menumpahkan isi pikiran yang penuh ini.

Besok gue akan ke Semarang untuk menikmati akhir Tahun bersama calon keluarga gue, menyenangkan menghabiskan waktu dengan orang - orang baik. Menyemangati diri terhadap resolusi 2017 yang harus dicapai dan menyegarkan pikiran untuk dapat diisi dan dikembangkan lebih. Semoga semuanya lancar untuk dapat dilanjutkan dan dikembangkan di tahun - tahun selanjutnya. Sebab sebagaimana hal yang gue ucapkan berulang tentang pembelajaran hidup, kita tidak tahu bagaimana kita ke depannya.. cuma bisa mengharapkan yang terbaik dengan segala usaha yang dimiliki. Gott segne dich!

Sunday, January 3, 2016

Selamat Datang 2016!

3 Januari 2016, ini adalah minggu terakhir musim liburan pada pergantian tahun 2015 ke 2016. Pergantian tahun ini cukup menakutkan bagi gue. Berbeda dengan banyak orang pada umumnya, awal tahun ini harus gue mulai dengan melepas sosok penting yang hidup bersama dengan gue selama 2 tahun terakhir ini. Hidup kita berbeda.

Pergantian tahun juga mendekatkan masa akhir kontrak gue di kantor yang sekarang yang akan menginjak masa 2 tahun. Menurut peraturan Depnaker seorang karyawan tidak boleh dikontrak lebih dari 2 tahun, sebenarnya itu diharapkan agar karyawan tersebut dianggat derajatnya dari kontrak menjadi tetap tapi entah mengapa atasan gue belum mau melakukan itu dengan alasan gue belum menyelesaikan gelar strata 1 gue yang sebenarnya akan gue tempuh 1 - 1.5 tahun lagi. Gue gak akan berkomentar banyak tentnag pekerjaan gue ini.

Tahun berlalu, gue tidak menakuti perubahan. Gue selalu terbuka terhadap hal - hal baru. Gue hanya takut melihat masa lalu, buruk atau baik sekalipun. Mengingat masa lalu yang telah gue lewati, semua itu gak akan kembali dan gue sangat merindukannya. Semuanya; masa kecil, remaja, dewasa sampai gue tua nanti. Everything changes. Dulu gue hanya bisa menghabiskan waktu 12 jam hidup gue di depan Playstation dan sisanya untuk tidur lalu sekolah. Sekarang gue disibukkan oleh pekerjaan dan kuliah, lalu besok?

Pergantian tahun juga mengingatkan gue akan umur gue yang semakin berkurang dan yah usia yang bertambah. Berkurangnya umur membuat gue teringat akan kematian. Gue takut suatu saat gue mati. Oke lah orang - orang akan berkabung, yaah paling hanya 1 sampai 2 hari sepeninggalan gue dan bagaimana sisanya? Orang - orang akan beraktifitas normal, melupakan gue dan paling hanya keluarga terdekat yang masih menyayangkan kepergian gue walaupun mungkin hanya berlangsung beberapa tahun pertama saja.

GIB NIEMALS AUF! Jangan menyerah, lo mungkin merasa sedih, muram, aneh atau prasangka negatif lainnya. Itu hanya sedikit tamparan mengenai apa yang telah, sedang dan akan kita hadapi seiring berjalannya waktu teman. Gue sendiri masih fokus terhadap mimpi gue untuk melanjutkan pendidikan gue ke rumah para orang hebat, Jerman. Seniman besar, ilmuwan hebat dan insinyur masyur banyak lahir dari tempat ini; sebut saja beberapa seperti Wolfgang Amadeus Mozart (komposer), Albert Einstein (ilmuwan fisika) dan lalu sebut Karl Benz (insinyur otomobil).

Bagian - bagian nama yang gue garis bawahi pasti sangat familiar di dunia, walaupun kita tidak tahu betul biografi & karya mereka secara mendetail. Ya mereka orang Jerman. Itu bukan kebetulan biasa, tanah tersebut tidak semata - mata melahirkan orang - orang brilian. Ada kebudayaan, etos kerja dan kebiasaan yang dapat sekaligus menarik untuk diperlajari. Ngomong - ngomong Presiden RI ke-3, BJ Habibie pun adalah lulusan almamater negeri itu. Gak ada habisnya membahas optimisme gue untuk lanjut belajar ke sana.

Sekarang kembali ke realita hidup, tahun ini adalah tahun yang keras!! Beberapa perubahan akan gue lakukan demi hidup yang lebih baik, gue mulai berpikir untuk kost, cari pekerjaan baru, fokus kuliah agar selanjutnya gue bisa maju beberapa langkah lebih dekat ke impian gue. 2 tahun kemarin sudah cukup menyenangkan. Gute nacht mein freund!

Wednesday, November 27, 2013

#NoMoreShare

Geezh! Akhirnya ketemu cara menyelimuti artikel gue menggunakan selimut invisible ala Harry Potter -ahay-. Bukan maksud gue gak mau berbagi artikel, tapi gue hanya menginginkan tulisan gue dihargai dengan dibaca. Walaupun gue dalam perihal tugas kampus melakukan co-pas tapi bagaimana pun gue mencoba kreatif dengan mengganti kalimat yang gue salin menggunakan bahasa gue sendiri. I copy just want to know how does it explained. Untuk lo yang baca ini semoga info yang gue bagikan di sini bermanfaat dan maaf teks - teksnya harus kalian salin manual. Good Luck Pal!

- Die Höffnung Stirbt Zuletzt -

Wednesday, August 28, 2013

Institusi Pendidikan [sempat] Kehilangan Kharisma

Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan oleh kekonyollan institusi pendidikan dengan hancurnya manajemen Ujian Nasional SD, diikuti dengan kasus saling tuduh orang di dalamnya bahkan hal itu dilakukan oleh pemimpinnya. Kasus baru mencuak mengenai tes keperawanan, hal konyol lainnya yang dilakukan oleh institusi pendidikan. Institusi pendidikan cabang suatu daerah memutuskan untuk melakukan tes tersebut demi terjaganya kualitas pelajar, aku tak paham betul teknisnya namun hal ini benar - benar memilukan.

Ini adalah negara merdeka, bahkan dimerdekakan untuk menentukan keperawanan rakyatnya sendiri. Liar? Memang liar, tapi tak perlu khawatir sila pertama pada Pancasila telah menjamin akhlak dan moral rakyatnya -- yah jika saja dasar negara diajarkan dengan baik kepada kita. Lalu institusi mau membatasi itu, membatasi hak keperawanan pelajar atas dasar moral dan akhlak yang tidak terpuji bagi dia yang kehilangan itu di luar pernikahan -- Lantas, apakah ganjaran yang diberikan kepada siswi yang sudah tidak perawan tadi? Diberhentikan, tidak dapat mendaftar sekolah untuk selanjutnya, SP1, SP2 atau bagaimana? Jelas hal tersebut malah merenggut hak perseorangan yang hakiki untuk mendapat pendidikkan yang layak dan dilindungi oleh dasar negara dan sepatutnya konstitusi.

Bayangkan saja jika hal itu terjadi dan benar diterapkan, aku tidak menjamin keperawanan setiap siswi di daerah tersebut namun dapat dipastikan menurut perkiraanku minimal 10 pelajar kehilangan kesempatannya untuk mendapat hak sebagai manusia, mendapat pendidikkan utuh yang layak. Itu hanya kira - kira saja, aku tidak berani menyebutkan nilai tanpa survey hehe. Selain itu dampak sosialnya jelas akan terjadi diskriminasi oleh lingkungan sekitarnya yang menjadi pembunuhan karakter pula bagi para siswi yang sudah tidak perawan lagi ini. Lalu bandingkan dengan negara tetangga, Australia, pemerintah tersebut bahkan melindungi siswi yang hamil di luar nikah. Institusi pendidikkan mereka menyediakan sekolah khusus dengan tambahan ilmu menjadi seorang ibu muda. Sementara disini dapat dipastikan siswi tersebut sudah dikeluarkan dan mendekam di rumah atas diskriminasi sekolah dan lingkungan hidupnya tanpa kepastian pendidikkan selanjutnya.

Tadi perkiraan terburukku, namun bagaimana jika tidak ada tindakkan? Apa gunanya? Membuang waktu dan malah menurunkan moral institusi pendidikkan itu sendiri yang malah sibuk memeriksa keperawanan dari pada memberikan pendidikkan sex agar para pelajar lebih cerdas menghadapi pergaulan mereka. Secara medis pula keperawanan tak lantas "hilang" dikarenakan kegiatan sex. Kegiatan olahraga berkuda dan bersepeda -- dan yah banyak kegiatan lainnya pun dapat berdampak pada sobeknya selaput dara perempuan yang berarti "hilang"-nya keperawanan tersebut, sudah jelas keperawanan pun bahkan tidak bisa menjadi titik penilaian standar akhlak dan moral siswi.

Ini lah letak kekonyollannya, para siswi -- juga siswa -- menghabiskan minimal hampir 1/4 harinya atau bahkan lebih di lingkungan sekolah dimana institusi pendidikkan bernaung, sebuah lelucon jika institusi pendidikkan meragukan akhlak dan moral pelajarnya. Ini berarti terjadi kesalahan internal pada mereka, bukan pelajar. Kurikulum diajarkan hanya sebatas hafalan bukan ilmu yang harus dipahami dan diresapi lalu diterapkan dalam hidup. Pelajar tidak diajarkan berakhlak dan bermoral, mereka ditujukan memenuhi rapor dengan angka - angka baik.

Yah ide tadi memang sudah terlanjur terliput media dan kabar baiknya peraturan ini tidak terwujud yang berarti masih ada hati nurani pada institusi pendidikkan, bukan tindakkan "angkat tangan" lalu menyalahkan pelajar tanpa ada tanggung jawab sebab mereka lah yang sepatutnya turut bertanggungjawab dalam menjaga akhlak dan moral pelajar. Harus aku acungi jempol kepada Bpk. M. Nuh yang kontra terhadap rencana peraturan tersebut dan jika tidak salah malah mau memberi sanksi kepada Disdik Prabumulih, aku tidak mengikuti kelanjutan beliau mengenai responnya terhadap berita ini tapi yang jelas ini berita baik. Semoga selanjutnya kabar baik yang kudengar dari institusi ini. Salam pelajar.

Monday, July 1, 2013

Siraman Teh

Teh, siapa yang tak kenal teh? tak kenal tingkatan kasta saat minum teh, keyakinan apa saja boleh menikmati cita rasa teh sampai yang tak berkeyakinan sekaligus, ras apa saja boleh minum teh walaupun kita terkadang rasis juga dalam mengelompokkan teh. Teh hitam, teh hijau dan teh merah atau entah ada kategori apa lagi bagi teh ini. Dinikmati pagi - siang - malam sah saja, berbeda dengan kopi -- walaupun sama - sama minuman tanpa batas tapi kopi sangat tidak disarankan bagi kalian yang ingin bangun pagi untuk dikonsumsi pada malamnya. Dingin atau panas sah saja, tak ada batasan bagi penduduk belahan bumi manapun sampai astronout yang sedang bertugas pun dapat menikmatinya. Tak ada pantangan minum teh, aku tak tahu jika ada penyakit terkait jika menikmati teh, paling setahuku hanya hambatan gula bagi mereka "pemilik" penyakit yang dapat terpicu oleh glukosa yang terdapat di dalam gula. Tanpa gula pun tetap nikmat.

Jika kalian kesal terhadap seseorang siram saja dengan teh, jika kalian tidak didengarkan siram saja dengan teh, teh sekarang pun bisa menjadi penyampai aspirasi yang sehat dan manis (jika pakai gula). Siraman teh lebih nikmat dari pada siraman rohani, sebab seperti yang aku sampaikan tadi, teh tak mengenal batasan ruang dan waktu. Teh juga bisa memadamkan amarah seseorang, sering kali kutemui dalam rapat - rapat "dengan urat" anggotanya disuguhi teh -- mungkin sebagai pereda emosi, mungkin.

Mungkin teh juga bisa memadamkan panasnya api yang kemarin sempat berkobar di Riau yang asapnya sampai ke rumah tetangga atau bisa saja kita suguhi saja mereka dengan teh agar presiden kita tak perlu meminta maaf pada mereka. Seakan musibah itu kesengajaan bangsa. Sementara di lain waktu presiden kita sedang sibuk menerima kaos jersey dalam pertemuan kehutaan bertema mangrove / bakau yang menurut ku gak nyambung. Gak senyambung teh yang bisa diminum bagaimanapun, mungkin pak pres kita ini butuh siraman teh.

Siraman teh itu esensinya bisa mengandung arti dalam, disiram teh kita diharapkan mau peduli terhadap sekitar seberapa buruk, jelek atau bodohnya itu. Kita bisa lebih mau mengerti sehingga kita menjadi pribadi yang universal namun khas apa adanya seperti teh. Jadi gak seperti siraman rohani tadi, sebatas agamamu.... begitu kamu pergi ke rumah orang lain pemahamanmu kurang dimengerti bahkan ditolak, berbeda dengan teh. Lalu kamu juga tidak perlu memaksakan pemahaman rohani mu pada orang lain sampai kau mengusir dari rumahnya seperti yang terjadi pada saudara kita di Sampang, mereka sempat tidak bisa menikmati teh di rumahnya. Halah jangankan menikmati teh di rumah, membeli teh pun rasanya sulit karena hidup terbengkalai bak bangkai sementara presidennya sedak asyik dijamu teh di New York sambil menerima penghargaan terkait kemanusiaan. Aku juga terlambat info soal saudara kita di Sampang ini apakah mereka sudah bisa lagi menikmati teh. Aku terlampau santai menikmati teh ini.

Teh sudah dinikmati sejak perang kolosal terjadi seperti The Legend of Three Kingdoms terjadi, bom atom pertama dijatuhkan sampai sekarang pun masih. Dan yah semua itu diperangkan bukan atas nama teh bahkan dalam "panas"-nya peperangan tersebut terkadang mereka juga menikmati teh tak peduli kubu musuh juga penikmat teh, tanpa gengsi mereka menikmati teh bersama walau dalam kubu berlawanan. Secara tak sadar teh sudah menyatukan kita. Oh siraman teh.


Friday, May 24, 2013

Layanan Pengaduan & Pemelihara Kualitas Petinggi Negara

Saya tidak tahu apakah layanan ini sudah ada atau belum, tapi sering kali saya temukan suara sampai protes rakyat tak tersampaikan dengan baik. Hal ini terbukti masih seringnya terjadi demo - demo dalam menyampaikan aspirasi kita sebagai rakyat dan kadang berlanjut anarkis. Dampaknya tidak sepele, jalanan menjadi macet, tempat berdemo pasti kotor bahkan rusak, para pengunjuk rasa baik dari golongan pekerja maupun pelajar pasti memiliki tanggung jawab dan itu mengganggu mereka sendiri dan pada akhirnya sama -- kegiatan ekonomi kita terhambat. Tidak efektif di dunia yang serba cepat sekarang. Kita butuh solusi terbaik dalam menangani hal ini.

Sebuah situs layanan pengaduan, itu yang kita perlukan dalam menghadapi hal ini. Dengan sistem filterisasi yang terkoordinir baik. Layaknya pengaduan keadaan darurat kepada polisi, rumah sakit ataupun pemadam kebakaran, kita wajib memilikinya. Jika saja hal tadi bisa dilakukan via telepon dengan filterisasi, koordinasi yang baik dan respon spontan yang cepat, mengapa kita tidak bisa membuat itu via situs dalam pengaduan ataupun penyampaian aspirasi rakyat dengan respon yang walaupun tidak se-spontan panggilan darurat tadi namun penyampaian, tanggapan dan tindakan yang serius dari penerima pesan?

Menjadi sangat menarik ketika ini bisa dikembangkan oleh negara. Mungkin kita satu - satunya atau pertama yang berhasil melakukan demokrasi online terstruktur ini. Targetnya tentu tak kecil, Kepresidenan, MPR, DPR, DPRD, Kepolisian, Kejaksaan juga banyak institusi negara lainnya yang menjadi target pengaduan aspirasi rakyat. Ingat mereka bukan institusi yang mengelola ini pula, menurut saya dibutuhkan suatu badan pemerintahan independen dan komitmen yang sama dengan KPK dalam menangani hal ini. Ini menjadi serius ketika rakyat bisa memrotes langsung pemerintahan dan ditujukan langsung kepada target aspirasi, baik kepada perseorangan pemerintahan, suatu bagian sampai keseluruhan badan tersebut. Perlakuan - perlakuan anggota pemerintahan serta para wakil rakyat menjadi diperketat secara sosial umum.

Ini memang bukan solusi pemberantasan korupsi terbaik tapi ini media sosial kontrol rakyat terhadap kualitas sikap para anggota "terhormat" ini. Secara tidak langsung ini pun menjadi suatu shock therapy bagi mereka para pemilik pangkat dan "kursi" agar menjaga sikapnya karena bukan atasan mereka saja yang bisa menindak, melainkan rakyat secara langsung bahkan secara personal. Tidak ada lagi rasa terpandang atas posisi sosial yang dimiliki mereka.

Mungkin saja menimbulkan keresahan bagi mereka yang duduk di kursi pemerintahan, risiko perusakan nama baik, saling tikam antar ataupun non-anggota atau tindakan pengecualian lainnya. Maka itu sebelumnya saya tegaskan, haruslah suatu badan independen yang menangani hal ini sehingga tercapainya informasi yang valid tanpa ada rekayasa sistem maupun data secara eksternal maupun internal. Informasinya pun bersifat terbuka setelah divalidasi sehingga rakyat sekaligus pihak pemerintah bisa mengontrol segala informasi yang terjadi di layanan ini.

Informasi yang sudah ditransaksikan di layanan ini pun tak habis sampai di sini saja, akan ada bagian tertentu oleh badan yang menangani hal ini yang menindak kepada target aspirasi rakyat. Hal ini bersifat forum sekaligus konsumer service, setiap saran dan keluhan yang disampaikan layaknya direspon oleh target aspirasi tersebut. Kurangnya atau bahkan tidak adanya respon bisa saja ditindak secara hukum oleh badan "admin" ini, menjadi suatu kewajiban bagi para petinggi negara untuk menjaga harkat dan martabatnya.

Hanya pemikiran iseng saya saja tapi mungkin bisa dicetuskan untuk mengoptimalisasikan demokrasi kita ini tanpa harus dilakukannya tindakan - tindakan demo yang sungguh tidak efektif karena para pengunjuk rasa pun sudah menyadari jika mereka hanya berdemo secara teratur maka mereka tidak akan didengar lalu terjadi tindakan anarkis agar mereka diperhatikan dan didengar sementara setelah itu tidak ada suatu badan atau perseorangan yang mengikuti perkembangan penyampaian aspirasi tersebut secara intensif. Jika pun ini serius dikembangkan, diperlukan landasan hukum, sistem dan komitmen yang kuat dalam menangani hal ini, sebab jika berhasil maka akan timbul rasa tanggung jawab tinggi bagi mereka petinggi negara karena perlakukan dan etika mereka di kehidupan sehari - hari dikontrol oleh rakyat dan ditindak serius.


Sunday, February 3, 2013

Menulis

Ini menjadi salah satu hobi gw sekitar 3 -  4 tahun belakangan ini dan menjadi sangat intens 2 tahun terakhir. Sewaktu kecil gw sempet mau melakukan ini, tapi gw merasa kurang percaya diri lalu gw hentikan hingga satu orang menginspirasi gw dengan blognya. Terima kasih buat salah satu teman baik gw semasa SMK karena dia yang berlangganan blog tersebut dan gw hanya sekilas melihat dan ikut membaca lalu gw menemukan kepercayaan diri karenanya.

Namanya Aldy Shekoski, itu cuma nama samarannya dan gw lupa nama aslinya siapa. Gw gak akan bahas banyak tentang dia karena gw cuma menjadi silent reader di blognya beberapa saat, karena ketika membaca beberapa artikel buatan dia maka langsung terbesit di pikiran gw. Yeah gw juga bisa! Tulisan dan bahasa yang digunakan dalam artikel - artikelnya menggunakan bahasa yang menarik tapi sangat polos (bukan artian innocence but pure himself). Perihal itu yang membuat gw kurang pede dulu. So first, i want to thank to that man, Aldy Shekoski.

Next, menulis ini banyak manfaatnya. Gak usah jauh - jauh memberikan dampak pada orang lain, gw gak pernah mengharapkan lebih dari tulisan - tulisan yang gw buat. Somehow ini menjadi kesenangan tersendiri, dulu sebelum tidur gw selalu memikirkan banyak hal tentang dunia. Dari overview scene hari itu, impian, sex, orang di sekitar gw, politik, ketuhanan, more, more and damn pikiran gw terlalu rumit. Menulis mengurangi semua itu, malam hari sebelum tidur gw menjadi simpel. Beberapa orang tiba - tiba menjadi maniak hal ini ketika sebuah trend naik, yah Raditya Dika. . . dia yang buat trend blogging naik dan gw muak orang yang heboh dan terbuai akan trend. Percayalah, sebentar itu booming dan suatu ketika mereka pengikut trend ini menghilang mengikuti trend lain.

Di samping itu yah bisa dibilang gw terbawa trend juga. Orang - orang besar kebanyakan menulis dan beberapa yang menginspirasi gw pun melakukan itu. Sebenarnya sih bukan trend bagi gw, bagi gw orang - orang sukses atau inspirator gw itu menulis pasti untuk menuangkan isi pikirannya agar tidak berlalu begitu saja. Juga pelajaran lain yang gw ingat, agar dapat menggapai impian lo maka kerjakanlah hal positif yang dilakukan mereka yang berhasil melakukannya. Yup kaya yang dikatakan motivator - motivator itu.

Banyak hal untuk mengekspresikan diri lo. Musik, warna atau tulisan. Semuanya memiliki kesulitan tersendiri tapi menurut gw yang paling simpel yang menulis. All you have to do is write. Menulis gak susah, kita melakukan ini hampir sepanjang waktu hidup kita -- tinggal menemukan gaya menulis yang pas menurut kita saja. Musik dan warna pun memiliki cara yang sama, intinya temukan dan tuangkan jati diri kita ke dalam karya itu. Sangat asyik!

Tulisan - tulisan ini menuntut kita untuk berinspirasi dengan konkret dan terstruktur walaupun kadang ada arti yang diawang - awang seperti puisi yang maknanya tersamar tapi tetap nyata secara emosi. Kebiasaan ini membuat kita berpikir jernih dalam hidup (beeuh mulai jadi idealis gw). Gak habis rasanya menulis itu, kecuali inspirasi dan waktu yang menghentikan.

Sunday, January 27, 2013

Busway, Transportasi Massal Jakarta


Busway? Maaf, Transjakarta tapi sebenarnya begitulah Transjakarta biasa disapa -- "Busway", padahal itu adalah nama jalur khusus tempat Transjakarta melintas. Reputasi Transjakarta tidak kalah dengan artis dalam negeri, kadang ditunggu - tunggu dan dikerumni saat kedatangannya namun jika memiliki kesalahan dicaci hingga dirusak karena suatu kekeliruan. Keberadaan Transjakarta ini memang sudah dinanti warga Jakarta dan sekitarnya, pasalnya belum ada kendaraan umum yang berintegrasi di Jakarta dan memiliki hak istimewa pula di jalanan Ibukota yang macet, yaah walaupun kadang diserobot juga.

Semua menginginkan Jakarta yang bersih, bebas banjir dan macet. Sebelum itu mari kita pisahkan banjirnya terlebih dahulu karena itu sudah keluar dari konteks pembicaraan. Bersih dan bebas macet, pengalaman saya sendiri saya belum pernah merasakan Jakarta yang begitu. Faktor - faktor penghalangnya banyak baik dari pihak pemerintah ataupun kita sendiri. Pemerintah sudah melakukan langkah yang cukup signifikan dengan diadakannya Transjakarta ini namun belum tegas melaksanakannya. Busway masih bebas diakses oleh kendaraan pribadi dan tidak ada sanksi tegas terhadap pelanggarannya. Saya pun orang yang menggunakan busway dengan motor saya, namun nanti saya jelaskan. Kembali ke topik, hasil dari pelanggaran ini menyebabkan tidak sedikitnya korban meninggal akibat tertabrak Transjakarta. Massa mengamuk menghancurkan hingga membakar bus Transjakarta, bagi saya ini merupakan kekeliruan. Jelas itu risiko memasuki jalur terlarang dan sudah hak bus Transjakarta memacu gas (dengan batas kecepatan yang ditentukan) di jalurnya. Akibat dari masuknya kendaraan pribadi ini maka busway menjadi macet, mengganggu kenyamanan penggunanya.

Lagi - lagi pemerintah harus tegas menetapkan larangan memasuki busway. Memang beberapa koridor tidak bisa ditetapkan peraturan seperti ini seperti salah satunya koridor 7.09 di wilayah Kramat Jati dikarenakan jalur di daerah tersebut hanya terdiri dari 2 - 3 ruas jalan. Tapi untuk jalur lain apalagi di tengah kota Jakarta ini akan sangat berguna. Kerasnya pemerintah melarang penggunaan busway akan mendorong para pengguna kendaraan pribadi untuk berpindah pada transportasi umum yang tidak memiliki sumbatan di jalurnya, Transjakarta.

Oia saya akan menjelaskan alasan saya memasuki busway dengan kendaraan pribadi saya, masalahnya mudah -- Transjakarta belum memiliki armada yang cukup dan baik. Sekali saya menggunakan Transjakarta untuk perjalanan ke klien saya di Tangerang dari Pasar Senen dan ini memakan waktu hampir 3 jam, menunggu hampir 2 jam baru hanya untuk menunggu bus di shelter Pasar Senen. Sungguh tidak efektif. Belum lagi tata tertib dalam pergantian keluar - masuk pengguna Transjakarta sungguh tidak rapih, betapa kasarnya para pengguna transportasi massal ini menerobos selagi yang lain keluar. Tidak peduli dia itu lansia, ibu - ibu, perempuan. . . terobos saja, dari pada menunggu bus berikutnya yang memakan waktu lebih lama.

Ada pun beberapa faktor lain seperti tertabrak bus Transjakarta saat menyebrang, bus terbakar akibat kebocoran solar atau pun hal - hal lainnya saya rasa itu harus menjadi perbaikan diri masing - masing. Saya mengkhususnya pada kedua hal tersebut. Warga Jakarta memang hebat, mereka bisa menyebrang jalan raya dengan tenang di mana pun. Menurut saya ini perilaku yang tidak tahu aturan, padahal tidak jauh beberapa meter darinya terdapat jembatan penyebrangan, tetapi tidak, mereka menerobos jalan raya. Ditambah kelalaian penyebrang, tidak sedikit saya dengar kasus penyebrang tertabrak bus Transjakarta. Lalu seringnya kebakaran bus, sangat terlihat bahwa perawatan armada jarang dilakukan kecuali mogok saat beroperasi. Cat mengelupas hingga terlihat karat. Sangat tidak layak bagi sebuah bus yang terus - menerus diisi penuh oleh orang.

Satu apresiasi saya terhadap Jokowi yang dengan naiknya Beliau maka terlihat mulai terawatnya armada - armada Transjakarta, di mata non-pengguna Transjakarta (saya). Di tambah Beliau sedang berencana membuat peraturan yang menyulitkan pengguna kendaraan pribadi untuk melintas dengan bebas di jalur utama Jakarta dengan tujuan mendorong digunakannya kendaraan massal agar tercapainya Jakarta bebas macet dan udara bersih. Saya setuju dengan program tersebut, walaupun banyak kontra yang timbul juga pengelakan terjadi terhadap peraturannya (Plat Genap - Ganjil) dengan membuat satu plat palsu lawan jenis plat yang dimiliki. Jika pun terjadi dan berhasil peraturan perketatan tersebut, maka saya menanyakan apakah siap kendaraan massal mengangkut ratusan ribu jiwa untuk datang dan keluar dari Jakarta secepat mereka masing - masing menggunakan kendaraan pribadinya? Atau bahkan lebih? Lalu tolong ingat, kenyamanan dan keamanan tetap menjadi prioritas. Saya harap itu mampu dilakukan.

Sunday, December 2, 2012

Santa Claus Is Coming To Town

Sebentar lagi natal, selalu merasa spesial di situasi natal dan kadang berkesan. Semua keluarga kumpul dan tidak ada yang lain selain keharmonisan keluarga besar. Itu jarang sekali didapatkan di jaman ini ketika semua orang mulai sibuk bahkan saudara terdekat kita sendiri. Gw tidak menyindir siapapun tapi begitulah hidup, tuntutan - tuntutan membawa kita menjauh dari apa kita sebenarnya tapi momen - momen seperti ini menyatukan semuanya kembali walaupun tidak benar - benar sempurna seperti dulu.

Hidup memang harus disyukuri, selalu ada yang lebih bagus untuk dimiliki dan selalu ada barang rusak lama yang kini dirindukan. Tidak akan pernah habis keinginan ini. Wew ini mulai melenceng dari tema natal kali ini, bagaimana rencana natal gw nanti? Nope, nothing, cuma menetap di rumah menyambut keluarga besar untuk kesini -- ke rumah keluarga besar Kaunang - Dumais. Sayangnya penyangga besar nama Kaunang dan Dumais di rumah ini sudah tiada, mereka sudah "tertidur". Cinta dari keluarga besarmu tidak akan pernah terlupakan Opa - Oma :D . Miris ketika mengingat gw menulis artikel mengenai kondisi Opa kemarin yang tidak kritis namun menyakitkan dan tidak berselang beberapa lama setelah gw selesai menuliskan itu lalu Beliau "tertidur", tidak mendapatkan sayang yang sepatutnya di hari - hari tuanya. Siapa yang paling menyayangi Beliau? Ternyata Tuhan menginginkannya lebih dari pada kami. Oma? Tidak berbeda, gw benci cara Tuhan mengambil manusia dari hidupnya dengan sakit. Tapi toh kita yang membuat itu.

Sebenarnya momen natal ini bukan saja perayaan, namun peringatan. Karena jujur saja kenapa gw membahas Opa karena Beliau meninggal pada tanggal 13 yang akan datang ini, nanti akan menjadi setahunnya Beliau meninggal. Santa, hey Santa bawa beberapa kado-mu kesini. Kami tidak memiliki cerobong asap, bahkan atap pun rapuh tapi mohon jatuhkan beberapa kadomu di rumah ini. Sebuah harapan, kasih. Buat keluarga besar kami berkumpul lagi tapi tidak dengan duka, memang dengan duka lebih efektif karena jika tidak menggunakan itu kadang yang lain masih sibuk sendiri. Semoga Santa datang ke Jakarta.

Wednesday, November 14, 2012

Demi Mimpi

Pengin nulis tapi gak ada inspirasi, kelelahan inspirasi dalam diri gw. Jadi maaf - maaf klo nulis ngasal. Mau cerita apa yah? Ehhmm perkuliahan masih panjang, math kembali ke awal, gw nyangkut seperti biasa padahal gw benar - benar ingin mengerti hal ini, gw yakin otak gw masih bisa di-squeeze. Algoritma, perdebatan dengan dosen mengenai prinsip -- seru juga sih dan masih gak terima akan penolakkan aplikasi gw oleh dosennya, lain kali gw siapkan lebih matang! Kerjaan, kanan kiri masih konflik. Kerjaan utama yang klo dipikir dua kali sayang untuk ditinggalkan dan freelance semakin ngawur hari demi hari namun belum tuntas tanggung jawab gw di situ.

Sisanya tinggal gw sendiri, bertahan demi mimpi. Teman kampus gw yang sudah menikah mengatakan untuk menikah saja, cukup menarik namun gw masih terlalu egois untuk membagi waktu gw. Selama karir belum di genggaman urusan cinta nomor dua tapi gak tau juga klo Tuhan berkehendak yang lain dan semoga berjalan lancar sesuai yang gw mau. Besok libur, yeah libur! Gak berarti day off bagi gw juga, tugas kuliah menunggu untuk dipresentasikan pada hari Sabtu. Bagaimana klo gw bisa membuat itu sendiri? Selalu senang untuk membuat hasil karya buatan gw sendiri walaupun pada prakteknya masih terjadi co-pas. Namanya hanya mengumpulkan informasi yang ada dan dibuat analisa dan kesimpulan yah pasti akan begitu.

Sekarang pukul 10.02, gw belum berangkat kerja juga. "Diare ini, membunuhku", begitu kata D'masiv. Hey semoga ini akan sembuh sebelum besok, besok gw akan mengadakan reunian dengan beberapa teman lama semasa SMK, bukannya kami lama tidak bertemu sih, ada yang sekarang masih berhubungan sebagai rekan kantor dan teman sekampus.  We used to play dota everyday after school and we want to do that again tomorrow. Waktunya mematikkan laptop dan kembali ke aktifitas. See ya!

Thursday, October 4, 2012

New Way, Old School

Okay from this time blog will change for a lil'.  Not such a big changing, but few of my homework which has to report via blog will be written here. So uhmm, enjoy it fellas!


Btw i want to remind you something, all the picts or information i posted here is taken from google or some sites i subscribed.. please don't talk about copyright here, i just want to say my opinion afterall.

Sunday, September 9, 2012

Ospek Masbro!

Name Tag
Setelah sekian lama akhirnya kuliah juga, sedikit nyesel karena mesti nunda 1 tahun waktu pendidikan gw. Tapi karena satu dan lain hal gw emang mesti nunda itu. Gap waktu pendidikan ini kga merusak semangat belajar gw dan semoga tetap begini untuk empat tahun ke depan sehingga impian gw untuk dapetin cucumlode gak cuma khayalan doang. Intinya sih bukan buat gaya - gayaan tapi gw bangga klo bisa selesaiin sesuatu dengan baik, semacam master piece gitu lah *cihui.

Gw bingung sama event itu nanti, bukan galau sih -- yah udah jadi habbit gw buat mikirin suatu hal yang akan gw kerjain (terutama hal baru) walaupun terkadang itu memang hal sepele. Bisa dibilang terlalu bad thinking atau secara positif disebut persiapan. Harapan gw gak akan ada gemblengan ala ala STPDN *klo gak salah namanya itu* nanti dan gw juga berharap event itu gak akan berlangsung seharian, ketahuilah satu hal untuk mengikuti ospek itu kepala gw harus dibotakin dengan maksimal panjang 2cm! Biasa aja sih haha, gaya rambut botak bukan hal yang terlalu baru bagi gw huehue. Tapi beberapa hari ini cuacanya sedang indah sekali, matahari bersinar sangat terang dan suhu udara meningkat panas. Sangat tidak bersahabat bagi mereka yang botak.

Ada yang mengatakan ospek itu tidak harus diikuti ataupun jika datang tidak usalah terlalu mengikuti aturan yang ada. Ehm bagaimana yah pendapat gw. . . Mungkin terdengar keren ketika lo menceritakan itu ke orang lain, "Ah gw ospek bikin kasus mulu", "Gw pas ospek ribut sama senior" atau "Ospek? apa tuh? gak pernah ikutan". Bagi gw itu gak penting, apa masalahnya dengan mengikuti aturan? Breaking the rule itu bukan mengenai pelanggaran, tapi bagaimana lo tetap berada di dalam zona namun berkembang sehebat mungkin -- apabila aturan yang berlaku itu bersifat positif, di luar itu menurut gw fine aja.

Besok lusa ospeknya udah dimulai, pada jam 7 pagi. Gedung tempat ospeknya adalah Hallroom-nya Gunadarma dan katanya mahasiswa gak boleh parkir di situ jadi sulit sepertinya klo mau membawa kendaraan pribadi karena di dekat situ gak ada tempat parkir yang aman kecuali gedung lain kampus dan gw gak tau apakah angkot daerah itu sudah dinas di bawah jam 7 pagi. Mau gak mau minta anterin Bokap, jadi inget ospek a.k.a MOS waktu SMP ^_^. Ospek nanti gw akan barengan sama temen smk gw waktu sekolah di Wikrama, Yudhis sama Cenge. Sukses lah buat kita bertiga huehue (y)